Kemarau panjang melanda Bumi Binangun, yang berdampak pada krisis air bersih di Perbukitan Menoreh. Salah satu wilayah terdampak, ialah Kalurahan Gerbosari Kapanewon Samigaluh. Namun, di tengah kemarau panjang, warga di sana tak terlalu terdampak krisis air bersih.
Lantaran, pemkal melalui Badan Usaha Milik Kalurahan (Bumkal) mengelola penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas). Total ribuan pelanggan disuplai oleh pamsimas dengan harga langganan yang terjangkau berkat skema subsidi silang.
Lurah Gerbosari Saronto menyampaikan, Bumkal Gerbosari memiliki beragam lini usaha. Paling dasar berupa simpan pinjam. Namun, Bumkal muali diarahkan mengembangkan beragam potensi desa, sekaligus menjawab permasalahan di tingkat masyarakat.
Baca Juga: Paralayang Festival 2026 Diikuti 76 atlet, Jadi Penanda Sport Tourism Kulon Progo
Salah satu potensi desa yang dikelola dan dikembangkan desa berupa Agrowisata Bunga Krisan Gerbosari. "Salah satu unit usaha berupa pengelolaan agrowisata bunga krisan, itu menggandeng kelompok tani," ucap Saronto, Jumat (4/9).
Hampir semua lini usaha Bumkal merupakan upaya pemberdayaan masyarakat. Lantaran, keiikutsertaan masyarakat hampir 90 persen dalam pengelolaan Bumkal. Hal ini, terlihat dalam jumlah serapan tenaga kerja yang ditampung Bumkal, ada lebih 50 warga bekerja sebagai pekerja.
Serapan tenaga kerja terbanyak jatuh dalam pengelolaan Pamsimas. Lantaran, pengelolaan pamsimas membutuhkan sumber daya manusia untuk memaksimalkan pelayanan masyarakat. Terutama saat pengecekan meteran air pada rumah yang berlangganan air dari pamsimas.
Baca Juga: 3D View Master, Teknologi Lawas yang Disebut Cikal Bakal Virtual Reality
Menurutnya, lini usaha pamsimas memang tak bisa dibilang sebagai usaha yang menguntungkan. Lantaran, biaya operasionalnya cukup tinggi. Bertahannya lini usaha tersebut justru digunakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Pihaknya tak mau layanan dasar masyarakat justru terganggu. Mengingat wilayahnya merupakan perbukitan yang mayoritasnya belum tersambung jalur PDAM.
Direktur Bumkal Gerbosari Agus Sujarwo menambahkan, lini usaha pamsimas memang didesain bukan sebagai penghasil laba. Lantaran, pamsimas merupakan sarana pelayanan kebutuhan dasar masyarakat.
Baca Juga: View Master Jadi Mainan Populer Era 90-an; dengan 'Klik' Bisa Lihat ke Dunia Tiga Dimensi
Jika berorientasi laba, pelayanan masyarakat justru dapat terhambat. "Pamsimas ini bukan profit oriented, tapi pemenuhan layanan dasar masyarakat," ungkapnya.
Agus menjelaskan, sebutan nonprofit oriented disematkan ke pengelolaan Pamsimas. Lantaran, pengelolaan pamsimas hanya memberikan laba yang relatif sedikit. Terkadang pamsimas harus menahan kerugian akibat operasionalnya yang membengkak. Hal ini dipengaruhi titik pamsimas yang ada di perbukitan.
Pamsimas Gerbosari memiliki dua titik sumber mata air. Dari dua titik tersebut, pamsimas memerlukan pompa besar untuk menaikkan air dari dataran rendah ke dataran tinggi.
Baca Juga: Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Sembilan Penerbangan Dari YIA ke Soekarno Hatta Dibatalkan
Penggunaan pompa inilah yang membuat pembengkakan biaya operasional. Lantaran, tarif listrik untuk pompa lumayan besar. Bahkan dengan iuran pelanggan terkadang tak menutupi kerugian itu.
Kendati terkesan rugi, pihaknya rutin menerapkan skema subsidi silang untuk menutup pembengkakan anggaran. Biaya iuran pelanggan dari distribusi air skema gravitasi digunakan untuk menambal pembengkakan.
Alhasil, tarif langganan air tak mengalami kenaikan drastis. "Kalau dinaikkan pasti 1.053 pelanggan akan terbebani, kami tidak mau seperti itu," ungkapnya. (gas/pra)
Editor : Heru Pratomo