3D View Master, Teknologi Lawas yang Disebut Cikal Bakal Virtual Reality

Baca Juga: KAI Buka Rekrutmen 2026, lulusan SMA hingga S1 Bisa Daftar
Mengingat penggunaannya, 3D View-Master kuncinya terletak pada cara perangkat itu menyajikan gambar terhadap kedua mata. Pengguna tidak melihat gambar yang dari jauh, melainkan langsung melalui alat yang ditempelkan di depan mata layaknya menggunakan teropong.
Cara itu menciptakan sensasi kedalaman sekaligus membuat pengguna seolah-olah berada lebih dekat dengan gambar. "Sehingga kita kayak ada rasa immersive, kayak masuk ke dalam gambar itu," tambahnya.
Konsep tersebut kemudian berkembang ke dalam teknologi VR. Jika 3D View-Master hanya menyajikan gambar yang telah disiapkan dan diganti satu per satu, VR mampu menghadirkan lingkungan visual yang berkesinambungan. Pengguna bukan hanya melihat, tetapi juga dapat berinteraksi dengan lingkungan virtual.
"Kita bisa masuk ke dalam itu sambil berinteraksi dengan dunia di dalam tersebut," tambahnya. Dengan kata lain, perkembangan teknologi itu bergerak dari sekadar melihat gambar menjadi mengalami sebuah ruang.
Baca Juga: Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Sembilan Penerbangan Dari YIA ke Soekarno Hatta Dibatalkan
Ahmad menjelaskan kesan tiga dimensi pada 3D View-Master dapat muncul melalui cara gambar disajikan. Secara teknis, gambar tidak sekadar ditempatkan sebagai satu lapisan, tetapi dimungkinkan memiliki beberapa lapisan atau pada bahan cetak yang digunakan sehingga menciptakan kesan 3D dan memunculkan persepsi kedalaman bagi pemakainya.
Menurutnya, penyajian itu membuat gambar terasa memiliki ruang. Efek visual itu kemudian memperkuat pengalaman imersif yang menjadi salah satu karakter utama teknologi visual modern.
Namun, kemampuan 3D View-Master tetap memiliki batas. Perangkat ini tidak merekam gambar secara langsung. Seluruh imaji yang ditampilkan sudah dipersiapkan sebelumnya. Ketika digunakan, pengguna hanya menikmati gambar yang tersedia.
Karena itu, Ahmad membedakan 3D View-Master dengan kamera. "Kalau kamera itu condongnya adalah dia merekam. Sementara ini kan kita hanya melihat," ujarnya.
Dalam perspektif media rekam, 3D View-Master justru dapat dilihat sebagai bagian dari luaran media rekam. Proses media rekam terjadi ketika gambar diproduksi dan dipersiapkan sebelum dimasukkan ke perangkat. Setelah itu, 3D View-Master berfungsi sebagai media penyaji.
Keterbatasan ini membuat penggunaan 3D View-Master pada akhirnya lebih banyak bergeser ke ranah hiburan. Teknologi itu tidak mampu menghadirkan gambar bergerak secara berkelanjutan maupun interaksi dengan lingkungan seperti yang ditawarkan teknologi digital sekarang.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




