JOGJA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Jogja meminta agar masyarakat mewaspadai potensi penyebaran penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia. Pasalnya, temuan penyakit tersebut sudah tercatat ribuan kasus dan penyebarannya meningkat di awal musim kemarau.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengatakan, selama periode bulan Januari hingga Maret pihaknya mencatat ada 1.568 kasus pneumonia. Dari jumlah tersebut 689 di antaranya merupakan balita.
Sementara untuk kasus ISPA, tercatat mencapai 26.721 kasus, dengan penderita balita mencapai 4.830 kasus. Endang menyebut, kedua jenis penyakit itu memang harus diwaspadai karena potensi penyebarannya mulai meningkat.
“Terlebih di awal musim kemarau seperti sekarang. ISPA, pneumonia, dan diare seringkali timbul,” ujar Endang saat dikonfirmasi, Kamis (1/5/2025).
Oleh karena itu, dia pun meminta agar masyarakat bisa melakukan berbagai upaya pencegahan dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Di antaranya dengan mencuci tangan dengan sabun dan konsumsi gizi seimbang.
Endang pun menekankan, penting bagi masyarakat agar minum air minimal delapan sehari meskipun tidak dalam kondisi haus.
Kemudian juga menghindari minum es, menghisap rokok, serta melakukan olahraga teratur.
“Penting juga menghindari orang yang sakit dan selalu memakai masker,” pesan Endang.
Sebelumnya, Kepala Stasiun Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta Reni Kraningtyas menyampaikan, kondisi peralihan musim dari penghujan ke kemarau memang berpengaruh terhadap kondisi iklim.
Salah satunya membuat suhu lebih panas dibandingkan biasanya.
Dia mengungkap, dari hasil pengamatannya selama sepekan terakhir suhu udara di sebagian besar wilayah DIY paling tinggi dapat menyentuh kisaran 31 hingga 32 derajat celcius. Walaupun memang ada potensi lebih tinggi lagi jika kondisi cuaca terik.
“Umumnya cuaca cenderung panas. Namun ada potensi hujan juga untuk wilayah DIY yang masih pancaroba,” terangnya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin