Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

  Nelayan Diminta Lebih Bertanggungjawab Dalam Pemanfaatan Benih Bening Lobster (BBL)

CK
POTENSI EKONOMI: Sosialisasi pengelolaan benih bening lobster dilakukan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY. Acara berlangsung di gedung Koperasi Pantai Depok Bantul, kemarin (11/6). (Istimewa)
POTENSI EKONOMI: Sosialisasi pengelolaan benih bening lobster dilakukan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY. Acara berlangsung di gedung Koperasi Pantai Depok Bantul, kemarin (11/6). (Istimewa)

Advertisement

 

JOGJA - Sosialisasi Implementasi Pengelolaan Benih-Bening Lobster (BBL) digelar Dinas Kelautan dan Perikanan DIY. Hadir dalam acara itu Sekretaris Komisi B DPRD DIY Wildan Nafis dan Akademisi dari Departemen Perikanan UGM Anes Dwi Jayanti. Wildan Nafis mengungkapkan, saat ini penangkapan BBL masih diperbolehkan sesuai aturan. Namun, pelaksanaannya harus dilakukan secara ketat. 

“Mengedepankan prinsip kehati-hatian,” ujar Wildan di depan sejumlah nelayan di Gedung Koperasi Pantai Depok, Bantul, kemarin (11/6).

Advertisement

Dikatakan, sosialisasi penting agar nelayan memahami aturan  menangkap BBL. Menurut Wildan, nilai ekonomis yang tinggi pada komoditas Benih Bening Lobster (BBL) mendorong sebagian nelayan beralih menangkap benih lobster. Itu menjadi perhatian bersama. Sebab, pemanfaatan dan penangkapan Benih Bening Lobster (BBL) dibatasi dengan regulasi.

Karena itu, perlu pemahaman agar nelayan tidak menangkap benih lobster secara berlebihan. Lobster dewasa dapat memberikan pendapatan yang lebih baik dibandingkan hasil tangkapan ikan biasa sehingga berpotensi meningkatkan kesejahteraan nelayan. Jika benih lobster tidak ditangkap secara berlebihan, populasinya akan tumbuh. “Menghasilkan lebih banyak lobster dewasa di masa mendatang,” papar Wildan.

Dosen Departemen Perikanan UGM Anes Dwi Jayanti mengatakan, siklus hidup lobster mulai dari telur hingga dewasa mengalami tekanan penangkapan. Itu mengindikasikan populasi lobster dewasa semakin berkurang. Sumber indukan dari BBL di wilayah DIY belum diketahui secara pasti karena fase larva lobster berlangsung cukup panjang.

Advertisement

 Dia mengingatkan, pentingnya pendekatan kehati-hatian karena nilai ekonomi BBL dan lobster sangat tinggi. Pengelolaan yang tidak tepat akan merugikan keberlanjutan sumber daya tersebut.

 Berdasarkan aturan, sebagian besar jenis lobster dapat ditangkap pada ukuran minimal 200 gram, kecuali lobster mutiara.  Ukuran ideal lobster berada di kisaran panjang karapas 7–8 sentimeter.  Anes menilai potensi sumber daya lobster di DIY sangat tinggi dan dikenal hingga mancanegara.

Namun, selama ini pengelolaannya dinilai masih belum optimal. Selain nelayan, pentingnya edukasi kepada konsumen. Banyak konsumen yang belum memiliki preferensi terhadap ukuran minimal lobster yang layak dikonsumsi.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY R. Hery Sulistio Hermawan mengatakan, regulasi pemanfaatan Benih Bening Lobster (BBL) terus diperbarui, dengan konsep pemanfaatan sumber daya yang berkelanjutan.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

NCFS 2026 Diikuti 10 Kampus Terbaik di Indonesia, Digelar di GOR Nusantara UGM

NCFS 2026 Diikuti 10 Kampus Terbaik di Indonesia, Digelar di GOR Nusantara UGM

Sebanyak 10 kampus terbaik dari berbagai penjuru Indonesia siap adu taktik dan mental dalam ajang National Collegiate Futsal Series (NCFS) National Stage 2026.

Api Masih Terus Muncul di Rumah Seyegan Sleman, Tim UGM Lacak Potensi Gas Bawah Tanah dengan Geolistrik

Api Masih Terus Muncul di Rumah Seyegan Sleman, Tim UGM Lacak Potensi Gas Bawah Tanah dengan Geolistrik

Tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) berupaya melakukan pendekatan geologi untuk memecahkan misteri rumah api di Seyegan. Salah satunya dengan menerjunkan alat geolistrik, Selasa (9/6).

Penanganan terhadap Rumah Api Seyegan Sleman oleh Tim FT UGM, selama Seminggu Akan Diguyur dengan Air Kapur

Penanganan terhadap Rumah Api Seyegan Sleman oleh Tim FT UGM, selama Seminggu Akan Diguyur dengan Air Kapur

Berbagai upaya dilakukan untuk menangani rumah api di Seyegan. Salah satunya dari Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) yang melakukan penjenuhan lewat air kapur.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer