Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sugiyantoro Kembali Didapuk Buat Boneka Bekakak, Jalankan Tugas Sejak 1991, Berharap Ada Regenerasi

Delima Purnamasari • Kamis, 16 Juli 2026 | 14:49 WIB
Sugiyantoro saat membuat boneka bekakak pada Kamis (16/7) - Delima Purnamasari/Radar Jogja
Sugiyantoro saat membuat boneka bekakak pada Kamis (16/7) - Delima Purnamasari/Radar Jogja

Tradisi Bekakak adalah ritual masyarakat di Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman dalam rangka memohon keselamatan. Puncak acara yang digelar setiap bulan Safar ini adalah  kirab dengan penyembelihan boneka pengantin. Sosok yang memiliki keistimewaan untuk membuat bonekanya adalah Sugiyantoro. 

Delima Purnamasari, Sleman

Suasana Padepokan Omah Soewoeng di Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping penuh dengan orang yang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Diiringi gending-gending Jawa, ibu-ibu sibuk menyiapkan hidangan dan sesaji. Ada pula bapak-bapak yang tengah mencampur adonan. Sementara lainnya membentuk janur. Namun, dari semua itu sosok yang paling menarik perhatian adalah Sugiyantoro. 

Dia terlihat terampil membentuk adonan dari tepung beras dan tepung ketan yang setidaknya berjumlah 30 kilogram. Tepung itu melapisi kerangka badan dan tangan boneka yang dibuat dengan bilah bambu. Sementara kepalanya ditancapkan dahulu sebuah pepaya kecil untuk memudahkan pembentukannya. Di bagian tengah badan empat boneka ini diberi sebuah kantong plastik menggantung berisi sirup merah cair. Nantinya ini jadi pelambang darah yang mengalir saat leher boneka disembelih. 

Baca Juga: Jateng Dipercaya sebagai Pilot Project Pengadaan Berkelanjutan, Bakal jadi Acuan Daerah Lain

"Saya sudah bikin sejak 1991 dan tidak ada yang beda," kata pria yang akrab disapa Tolo ini ditemui di sela-sela pembuatan, Kamis (17/7). 

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai tukang pijat ini bercerita, tantangan utama dalam pembuatan boneka bekakak justru saat membuat adonan karena harus tepat setengah matang. Jika tidak sesuai maka adonan bisa keras atau justru jadi lembek. Usai membentuk setiap bagian tubuh, dilanjutkan dengan proses penghalusan menggunakan air. Lalu di akhir akan dilakukan pelapisan menggunakan minyak goreng. Hal ini untuk memperlambat penguapan dan mencegah boneka retak ketika terkena cuaca panas. 

Saat sudah berbentuk layaknya manusia dua pasang boneka ini diberi hiasan dan pakaian layaknya pengantin. Pengantin laki-laki satu menggunakan blangkon sementara lainnya kanigoro. Sementara untuk yang perempuan menggunakan konde dan satunya bergaya gulung tekuk. Proses pembuatan ini dilakukan sejak pukul 09.00 hingga 16.30. 

"Terakhir nanti dirias bisa pakai riasan orang atau cat air, bebas. Dirias agar seperti manten betulan," katanya. 

Orang zaman dahulu yang terlibat dalam prosesi bekakak ini memang harus berpuasa. Mulai dari yang membuat ogoh-ogoh, pembawa barang kirab, hingga pembuat boneka ini. Hanya saja dia sebut saat ini tata laku tersebut tidak lagi dijalankan. 

Pria berusia 70 tahun ini mengaku sudah cukup lama melaksanakan tugas pembuatan boneka bekakak ini. Dia menilai memang sudah semestinya ada regenerasi pada anak-anak yang lebih muda. Hanya sana diakui ini bukan perkara mudah karena belum ada yang benar-benar tertarik. 

"Saya terpilih karena mencoba, bisa, dan diterima. Buatan saya dianggap bagus lalu ya sudah saya diminta buat," terangnya. 

Tolo menilai tidak perlu ada keahlian khusus dalam membuat boneka bekakak ini karena dia sendiri belajar secara otodidak. Hal terpenting adalah minat karena biasanya anak yang tertarik akan terus hadir dan melihat dari tahun ke tahun untuk ikut belajar. Kalau pun sosoknya adalah pekerja seni yang selaras seperti pembuat parung dia nilai juga akan semakin baik. Hanya saja sampai dengan saat ini dia belum menemukan sosok tersebut. 

Baca Juga: Bali United Resmi Umumkan Tim Geypens Sebagai Rekrutan Anyar

"Harapan regenerasi ya pasti ada, tapi nyatanya sulit," keluhnya. 

Prosesi bekakak ini akan diselenggarakan pada Jumat (17/7) sore. Nantinya bagian tubuh kedua boneka bekakak ini akan dibagikan pada masyarakat. Tolo mengaku jika zaman dahulu tubuh boneka ini memang dikonsumsi masyarakat, tetapi saja saat ini sudah jarang. 

"Buat apa kurang tahu. Tergantung masing-masing," tandasnya. (del)

Editor : Bahana.
Sleman bekakak ambarketawang Gamping