Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Misteri Makam Buddha, Ubah Lahan Pertanian Jadi Obwis

Editor Content • Selasa, 8 Maret 2022 | 14:51 WIB
WISATA UNIK : Dukuh Karanganyar Dwi Haryanto sedang menunjukkan Sendang Mbundo beserta patung pancuran Buddha itu.(MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)
WISATA UNIK : Dukuh Karanganyar Dwi Haryanto sedang menunjukkan Sendang Mbundo beserta patung pancuran Buddha itu.(MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Dusun Daren Lor, Padukuhan Karanganyar, Kalurahan Donokerto, Kapanewon Turi, Sleman memiliki Sendang Mbundo. Sendang buatan ini menyimpan sisi lain. Sendang ini juga menjadi ikonik tumbuhkan potensi wisata padukuhan setempat. Berikut kisahnya.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja

Sepuluh tahun lalu, lokasi Sendang Mbundo merupakan lahan pertanian terasering yang sulit dikelola. Lahan ini merupakan tanah plungguh padukuhan setempat. Karena sulit dikelola, maka oleh Dukug Karanganyar, Dwi Haryanto diubah menjadi taman untuk meningkatkan nilai ekonomi masyarakat setempat. "Awalnya saya menanam bunga selosia. Lalu menanam kelengkeng dan buah-buahan lainnya, apa pun saya tanam hingga terbentuklah taman di lahan yang sulit dikelola ini," ungkap Dwi di temui Radar Jogja belum lama ini.

Melihat adanya kekayaan mata air di bagian terasering bawah, kemudian muncul gagasan membangun sendang. Awalnya tidak memiliki nama. Namun karena di dusun ini menyimpan misteri ditemukannya tiga makam Buddha di sekitar sendang, maka dinamakan Sendang Mbundo. "Diambil dari kata Buddha. Karena dilafalkan oleh orang Jawa, sehingga menjadi Mbundo," bebernya.

Dia pun menunjukkan lokasi tiga makam Buddha yang saat ini masih misteri. Tepatnya di bawah sendang. Di semak-semak di bawah rerumpunan pohon bambu. Berdekatan dengan kolam ikan dan kebun buah. Lokasinya di tanah pribadi warga setempat. "Makam ini sudah ada sejak lama. Sejak wilayah ini ditanami tebu. Bahkan pernah dilakukan penelitian dari UGM," terang Dwi.

Nah, adanya potensi ini lantas dia kembangkan lagi. Pada 2018, lokasi ini dibangun dengan swadaya masyarakat dan diresmikan. Sebagai ikon, di tepian Sendang Mbundo diberikan patung Buddha membawa kendi. Lantas dari dalam kendi itulah keluar mata air. "Seperti pancuran. Airnya asli dari mata air yang diambil dari perbukitan atas melalui sambungan pralon," jelas Dukuh Karanganyar ini.

Dari itulah Sendang Mbundo semakin ramai dikinjungi. Selain berenang, juga sebagai tempat rekreasi dan bersantai sembari menikmati jajanan kuliner di lokasi ini. Yakni, belut gongso, belut bumbu kuning dan mie inovasi. Selama 2019, Sendang Mbundo ramai dikunjungi wisatawan. Sejak 2020, begitu ada pandemi Covid-19, lokasi ini terdampak. Pengunjung tak seintens dulu lagi. "Bila dulu hampir setiap hari rombongan wisata datang, sekarang ini sangat jarang," ungkapnya.

Meski demikian, lokasi masih terus buka. Hanya saja kunjungan wisata harus lebih dulu memesan. Terutama bagi kunjungan wiaata yang menghendaki paket wisata tertentu. Seperti outbond, camping, sekalipun sekedar menikmati menu kuliner.

Dia menambahkan, Sendang Mbundo akan dilakukan renovasi. Sebab, sambungan paralon yang menghubungkan mata air hanyut terbawa luapan air Sungai Denggung. "Sudah sebulan ini rusak. Kami segera memperbaiki sambungan," beber dia.

Nopinda, pengurus Sendang Mbundo mengatakan dulu lokasin ini ramai dikunjungi. Bukan hanya jntuk menikmati kuliner tetapi menikmati live musik di panggung hiburan sekitar sendang. Karena panggung ini merupakan panggung terbuka, diharapkan Sendang Mbudho kembali ramai dikunjungi wisatawan. "Mudah-mudahan kembali bangkit," harapnya. (bah) Editor : Editor Content
#Sleman #Jogja