Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sejarah dan Arti Penting Garebeg di Yogyakarta yang Rutin Diselenggarakan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Satria Putra Sejati • Kamis, 11 April 2024 | 20:57 WIB

 

Abdi dalem Keraton Yogyakarta membagikan hasil bumi dari gunungan ke masyarakat
Abdi dalem Keraton Yogyakarta membagikan hasil bumi dari gunungan ke masyarakat

RADAR JOGJA - Garebeg merupakan salah satu upacara yang hingga saat ini masih rutin dilaksanakan oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Kata Garebeg,  arti di iringi atau di antar oleh orang banyak.

Hal ini merujuk pada Gunungan yang diiringi oleh para prajurit dan Abdi Dalem dalam perjalanannya dari keraton menuju Masjid Gedhe.

Dalam pendapat lain dikatakan bahwa Garebeg atau yang umumnya disebut “Grebeg” berasal dari kata “gumrebeg”, mengacu kepada deru angin atau keramaian yang ditimbulkan pada saat berlangsungnya upacara tersebut.

Upacara Garebeg berasal dari tradisi Jawa kuno yang disebut Rajawedha.

Pada upacara tersebut raja akan memberikan sedekah demi terwujudnya kedamaian dan kemakmuran di wilayah kerajaan yang dipimpinnya.

Tradisi sedekah raja ini awalnya sempat terhenti ketika Islam masuk di Kerajaan Demak.

Akibatnya masyarakat menjadi resah dan meninggalkan kerajaan yang baru berdiri tersebut.

Melihat gejala demikian, Wali Songo yang menjadi penasehat Raja Demak kemudian mengusulkan agar tradisi sedekah atau kurban oleh raja tersebut dihidupkan kembali. 

Akan tetapi, kali ini upacara yang berasal dari tradisi Hindu tersebut dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi sarana penyebaran agama Islam.

Berawal dari Demak, Kerajaan Islam di Jawa berikutnya tetap memelihara tradisi sedekah raja tersebut.

Di Yogyakarta, tiga kali dalam setahun, upacara tersebut digelar dengan nama Garebeg Mulud, Garebeg Sawal dan Garebeg Besar.

Garebeg Mulud digelar pada tanggal 12 Rabiul Awal (Mulud) untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad.

Garebeg Sawal digelar pada tanggal 1 Sawal untuk menandai berakhirnya bulan puasa, dan Garebeg Besar dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijah (Besar) untuk memperingati Hari Raya Idul Adha. 

Religius sebab penyelenggaraan upacara garebeg ini berkenaan dengan kewajiban Sultan untuk menyebarkan dan melindungi agama Islam. Hal ini sesuai dengan peranannya sebagai Sayidin Panatagama Kalifatullah. 

Historis sebab berkaitan dengan keabsahan Sultan dan kerajaannya sebagai ahli waris sah dari Panembahan Senopati dan kerajaan Mataram Islam. 

Kultural karena penyelenggaraan upacara ini menyangkut kedudukan Sultan sebagai pemimpin suku bangsa jawa yang mewarisi kebudayaan para leluhur yang diwarisi oleh kepercayaan lama.

Editor : Amin Surachmad
#Keraton #Yogyakarta #gunungan #sejarah #garebeg