Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Alasan dan Filosofi di Balik Motif Gunungan Pare Anom Lengserkan Motif Geblek Renteng Khas Kabupaten Kulon Progo

Anom Bagaskoro • Rabu, 16 April 2025 | 23:22 WIB
Design gunungan wayang emas.
Design gunungan wayang emas.

RADAR JOGJA - Pada tahun 2025, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo memutuskan untuk mengganti motif batik khas daerahnya.

Motif Geblek Renteng yang lebih mencerminkan filosofi kepemimpinan dan kemakmuran digadang-gadang bakal diganti motif baru, yakni Gunungan Pare Anom.

Gunungan Pare Anom yang diharapkan dapat menjadi simbol identitas budaya yang lebih kuat dan relevan dengan visi pembangunan daerah.

Mengapa Motif Gunungan Pare Anom Dipilih?

Motif Geblek Renteng memiliki makna filosofis yang mendalam dan relevansi dengan kondisi sosial budaya Kulon Progo yaitu angka delapan.

Angka tersebut merupakan bentuk dasar dari Geblek Renteng, namun dianggap memiliki asosiasi dengan simbol "asta" atau "hasta" dalam bahasa Sanskerta, yang mencerminkan kepemimpinan Bupati Hasto Wardoyo.

Untuk menghindari asosiasi tersebut, motif baru yang lebih netral dan bermakna positif dipilih yaitu motif Gunungan Pare Anom.

Filosofi Motif Gunungan Pare Anom

Motif Gunungan Pare Anom terinspirasi dari bentuk gunungan dalam wayang kulit, yang melambangkan kehidupan dan perjalanan manusia menuju kesempurnaan.

"Pare Anom" sendiri berarti "padi muda," simbol dari harapan dan pertumbuhan.

Kombinasi ini mencerminkan aspirasi Kulon Progo untuk terus berkembang dan mencapai kesejahteraan bagi seluruh masyarakatnya.

Baca Juga: Taman Parkir Abu Bakar Ali Hendak Dibongkar, Berikut Rencana Lokasi Pengganti di Kawasan Malioboro

Penampilan Motif Gunungan Pare Anom

Motif Gunungan Pare Anom memiliki desain yang elegan dan simbolis, dengan elemen-elemen yang menggambarkan gunungan (segitiga besar di tengah) dalam wayang kulit dan unsur-unsur alam seperti ornament padi, dedaunan, atau simbol alam lainnya yang melambangkan pertumbuhan dan kemakmuran.

Warna hijau mendominasi motif, karena melambangkan kesuburan serta warna alami dan tradisional seperti coklat sogan, hijau daun, atau emas dipilih untuk mencerminkan harapan, sesuai dengan filosofi yang ingin disampaikan.

Motif ini banyak ditemukan di daerah Yogyakarta atau Solo, dan biasa digunakan dalam kain adat, upacara tradisional, atau sebagai hiasan bernilai filosofis. (Adinda Fatimatuzzahra)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Yogyakarta #Gunungan Pare Anom #Motif #kabupaten kulon progo #Motif Gunungan #Filosofi Kepemimpinan #Geblek Renteng