RADAR JOGJA - Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja tengah berupaya untuk mengembangkan pasar-pasar rakyat menjadi pasar hybrid atau pasar dengan dua metode transaksi. Upaya tersebut dilakukan agar pasar rakyat di Kota Jogja tidak punah digempur kemajuan zaman.
Kepala Bidang Pasar Rakyat Dinas Perdagangan Kota Jogja Gunawan Nugroho Utomo mengatakan, pasar hybrid merupakan pasar tradisional yang digitalisasi. Entah itu dari sisi pembayaran yang terdukung perbankan digital maupun pemasaran secara online.
Menurut Gunawan, sejauh ini ada beberapa pasar tradisional yang sudah mendukung sistem pembayaran digital. Walaupun demikian memang untuk bisa diterapkan secara optimal perlu proses yang cukup panjang.
Alasannya, karena ekosistem di pasar-pasar rakyat Kota Jogja saat ini masih didominasi oleh penjual dan pembeli yang belum terlalu akrab dengan digitalisasi. Oleh karena itu memang perlu berbagai upaya sosialisasi agar penerapan kebijakan tersebut bisa benar-benar dipahami.
”Jika diterapkan langsung jelas tidak bisa, karena kami tahu banyak pedagang pasar rakyat yang tidak berusia muda,” ujar Gunawan, Senin (22/7).
Dia menegaskan, digitalisasi pasar rakyat di Kota Jogja merupakan salah satu program yang harus dilakukan. Lantaran hal tersebut menjadi salah satu langkah paling konkrit agar pasar-pasar rakyat yang masih ada saat ini bisa terus beroperasi atau lestari.
Sebab, jika pasar rakyat tutup maka dampaknya terhadap perekonomian masyarakat bisa sangat luar biasa. Gunawan mencontohkan, di Pasar Beringharjo ada sekitar 5.600 pedagang jika pasar rakyat tersebut tutup maka efeknya tidak hanya dirasakan oleh pedagang saja.
Namun juga pegawai hingga produsen komoditas.“Jika satu pedagang punya satu pegawai maka ada 10.000 ribuan orang yang kehilangan pekerjaan. Belum lagi produsen, tukang parkir, dan lainnya yang selama ini menggantungkan hidup di pasar rakyat,” terangnya.
Salah satu pedagang perlengkapan pernikahan di Pasar Beringharjo Adella Dea mengaku, sudah cukup memahami terkait dengan sistem pembayaran maupun pemasaran digital. Hanya saja, memang dalam penerapannya cukup dilematis.
Sebab jika sudah menawarkan di pasaran online atau marketplace ada persaingan harga yang cukup sengit. Istilahnya, harus benar-benar berani menawarkan harga yang lebih murah dibandingkan dengan penjual lainnya agar pembeli tertarik.
”Jika menjual di marketplace online keuntungannya lebih sedikit. Sehingga untuk saat ini saya masih fokus di offline. Selain karena masih banyak peminatnya,” kata Adella. (inu/din)
Editor : Satria Pradika