Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Longsor Tutup Jalur Alternatif Antardesa di Ngadiharjo Borobudur, Satu Keluarga Mengungsi, Pembersihan Dilakukan secara Manual

Naila Nihayah • Selasa, 13 Januari 2026 | 21:17 WIB
PEMBERSIHAN: Warga dan relawan berupaya membersihkan sisa longsoran yang terjadi di Dusun Tanjung, Ngadiharjo, Borobudur, Selasa (13/1).
PEMBERSIHAN: Warga dan relawan berupaya membersihkan sisa longsoran yang terjadi di Dusun Tanjung, Ngadiharjo, Borobudur, Selasa (13/1).

MAGELANG - Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur wilayah Borobudur memicu terjadinya tanah longsor di Dusun Tanjung, Ngadiharjo. Longsor yang terjadi pada Senin (12/1) sore itu menutup jalur alternatif penghubung antardesa serta mengancam sebuah rumah warga.


Peristiwa longsor terjadi sekitar pukul 16.15, setelah hujan dengan intensitas lebat mengguyur kawasan tersebut sejak siang hari. Tebing tanah yang berada di sisi jalan tidak mampu menahan beban air, sehingga mengalami pergerakan dan runtuh ke badan jalan.


Warga Dusun Tanjung, Susilo Fajar, 34 menjelaskan, hujan deras mulai turun sekitar pukul 14.00 dan berlangsung hingga sore hari. Dia menyebut, longsor diperkirakan terjadi sekitar pukul 15.00, saat hujan masih mengguyur wilayah tersebut.


"Kemarin hujannya deras sekali, dari jam dua sampai jam empat sore. Mungkin sekitar jam tiga itu longsornya terjadi," ujar Susilo saat ditemui di lokasi kejadian, Selasa (13/1).


Dia menjelaskan, jalan yang tertutup longsoran merupakan jalur alternatif yang menghubungkan Dusun Tanjung, Ngadiharjo, dengan Dusun Jombok, Ngiripurno. Jalur tersebut kerap digunakan warga sebagai akses penghubung antardesa.


Beruntung, saat kejadian tidak ada warga yang melintas di jalur tersebut. Fajar mengatakan, kondisi jalan relatif sepi ketika longsor terjadi. "Alhamdulillah pas kejadian nggak ada orang lewat," ucapnya.


Selain menutup jalan, longsor juga terjadi di beberapa titik lain di wilayah Ngadiharjo. Satu di antaranya berada di sekitar rumah Kepala Dusun Tanjung Sriwoto serta di area sekitar masjid setempat, meski dengan skala yang lebih kecil.


"Di rumah Pak Kadus itu ada longsoran juga. Rumahnya aman, tapi di atasnya tanah sudah retak-retak, dikhawatirkan bisa nambah longsor," jelas Susilo.


Menurutnya, longsoran utama memiliki ketinggian sekitar 4 hingga 5 meter dengan lebar mencapai 10 hingga 15 meter. Ketebalan material longsor diperkirakan sekitar dua meter. Lahan yang longsor diketahui milik seoang warga setempat bernama Ismanto.


Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Magelang Edi Wasono menjelaskan, longsor dipicu oleh hujan lebat yang menyebabkan tanah menjadi jenuh air dan tebing dalam kondisi labil. "Kondisinya tidak stabil sehingga terjadi longsor," katanya.


Berdasarkan hasil asesmen BPBD, tebing dengan tinggi sekitar delapan meter dan lebar enam meter longsor dan materialnya menutup akses jalan lingkungan. Longsoran itu juga mengenai tembok rumah milik Sriwoto dan mengancam bangunan rumahnya.


Akibat kejadian ini, satu rumah dilaporkan dalam kondisi terancam dan satu kepala keluarga dengan empat jiwa terpaksa mengungsi sementara ke rumah tetangga terdekat. Langkah evakuasi dilakukan sebagai upaya antisipasi mengingat kondisi tanah di lokasi masih bergerak dan berpotensi longsor susulan.


"Kondisi saat ini tanah masih bergerak dan terjadi hujan lebat, sehingga belum memungkinkan dilakukan kerja bakti pembersihan," ujar Edi.


Dia menambahkan, penanganan longsor masih dalam proses. Berdasarkan koordinasi dengan DPUPR serta Pemdes Ngadiharjo, pembersihan material longsor tidak dapat menggunakan alat berat. Medan yang curam dan akses jalan yang sempit menjadi kendala utama bagi mobilisasi alat berat ke lokasi.


Sebagai langkah sementara, pembersihan material longsor direncanakan dilakukan secara manual melalui kerja bakti warga setempat setelah kondisi dinyatakan aman dan cuaca membaik. Dia juga mengimbau warga yang tinggal di sekitar lokasi rawan longsor untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi. (aya/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Borobudur #DPUPR #lokasi rawan #cuaca #Bencana #Hujan #BPBD #intensitas #tebing #Longsor