MUNGKID – Sebanyak 2.000 bibit pohon berbagai varietas dibagikan kepada warga dalam rangkaian kegiatan Festival Kebonkliwon IV.
Pembagian ribuan bibit tersebut ludes dalam kurun waktu kurang dari sepuluh menit.
Warga Dusun Kebonkliwon, Kebonrejo, Salaman mengawali kegiatan dengan kirab mengelilingi dusun dan membawa tiga gunungan berisi hasil bumi sekitar pukul 08.00.
Suasana riuh penuh semangat mewarnai dusun sejak pagi, tak lupa iringan musik tradisional dan kesenian rakyat saat kirab.
Ratusan warga dari berbagai daerah sudah memadati area kegiatan untuk mengikuti Festival Kebonkliwon IV, sebuah tradisi budaya dua tahunan yang menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur warga.
Setelah kirab, ada penampilan pentas seni tradisional dan prosesi pembukaan festival secara resmi di panggung utama.
Sebanyak dua ribu bibit pohon berbagai varietas disusun rapi di halaman milik warga yang telah dipagari agar tak diambil sebelum waktunya. Puncak antusiasme warga terjadi ketika waktu pengambilan bibit pohon tiba.
Ribuan bibit itu didapat dari warga Dusun Kebonkliwon yang kesehariannya menjadi produsen bibit.
Setiap kepala keluarga, kata dia, menyumbang lima bibit, bahkan ada yang lebih. "Kami menyebutnya sedekah oksigen karena satu orang satu pohon untuk bumi yang hijau," jelasnya.
Festival Kebonkliwon sendiri pertama kali digelar pada 2017 sebagai pengembangan dari tradisi khataman anak mengaji di masjid setempat yang rutin diadakan dua tahun sekali.
Dari acara sederhana itu, warga bersama karang taruna menginisiasi festival sebagai ruang ekspresi budaya, ekonomi, dan lingkungan.
Tahun ini, festival mengusung tema 'Ngunduh Wohing Pakarti' yang berarti memetik buah dari perbuatan, sebagai refleksi bahwa setiap kebaikan akan berbuah kebaikan pula.
Gelaran yang berlangsung mulai 5–10 November 2025 ini juga menampilkan 40 pelaku UMKM dari berbagai daerah serta delapan kelompok kesenian tradisional di panggung utama.
"Apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai. Warga Kebonkliwon telah menanam nilai-nilai luhur dan memetik hasilnya berupa harmoni sosial, ekonomi, dan spiritual," imbuhnya.
Selain menjadi ajang budaya, festival tersebut juga menegaskan fondasi keagamaan masyarakat setempat melalui khotmil quran yang menjadi bagian dari rangkaian acara.
Perpaduan antara budaya dan spiritualitas ini, lanjut dia, menunjukkan bahwa warga tidak pernah melupakan nilai-nilai keimanan. (aya/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita