BANTUL – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Bantul terus berupaya melakukan regenerasi nelayan untuk meningkatkan produksi perikanan tangkap.
Apabila jumlah pelaku penangkapan ikan di laut atau nelayan bertambah, diharapkan volume penangkapan ikan makin meningkat.
Sub Koordinator Kelompok Substansi Perikanan Tangkap dan Pemberdayaan Nelayan DKP Bantul Pramahdiansyah mengatakan, saat ini jumlah nelayan laut di Bantul berjumlah sekitar 381 orang.
Sementara jumlah nelayan sungai berjumlah 717 orang. Jumah tersebut merupakan data yang didapat DKP Bantul pada tahun 2023. Rata-rata berusia 30 hingga 65 tahun.
“Belum kami rilis angka terbarunya, tapi ada sekitar 1.200 nelayan laut dan darat. Perlu verifikasi lanjut dengan penyuluh yang ada di lapangan supaya datanya sinkron,” katanya saat dihubungi, Minggu (14/1).
Setiap tahunnya, jumlah pengurangan nelayan di Bantul lebih besar daripada penambahannya. Rata-rata setiap tahunnya nelayan di Bantul berkurang sebanyak 5 hingga 15 orang.
Mayoritas disebabkan karena meninggal, pindah, dan alih profesi seperti menjadi tukang parkir atau pedagang.
“Kalau penambahan lebih sedikit, rata-rata per tahun hanya dua sampai lima orang,” ujar Pram, sapaannya.
Guna melancarkan regenerasi nelayan, DKP Bantul melakukan pelatihan dengan memfasilitasi 12 peserta pada tahun 2023 lalu.
Kegiatan itu menggunakan dana keistimewaan (Danais) yang memfasilitasi 12 peserta didampingi 12 tekong dan anak buah kapal (ABK).
“Magang teori dua hari lalu praktek 60 kali melaut. Diikutkan ke 12 perahu yang berisi nelayan senior,” jelas Pram.
Ia mengungkapkan, usai pelatihan tersebut, pihaknya saat ini masih memantau perkembangan para nelayan muda yang masih lanjut melaut hingga kini.
Ada beberapa nelayan muda yang terpaksa mundur karena tidak diperbolehkan oleh keluarganya. Meskipun telah mendapatkan pelatihan.
Dari 12 peserta pelatihan pada 2023 lalu, saat ini yang terpantau masih aktif berjumlah 10 orang.
"Nelayan itu persoalan budaya, anaknya semangat tapi simbah e wedi. Padahal kami cover dengan BPJS lengkap. Alat pelindung diri juga sudah memenuhi standar,” ucapnya.
Menurutnya, regenerasi nelayan memerlukan proses yang panjang. Sebab, !elayan muda yang tahun diberi pelatihan pada tahun ini, belum tentu akan konsisten melaut di tahun depan.
“Kemungkinan dia tidak menjadi nelayan cukup banyak, karena menikah lalu istrinya melarang. Kemungkinan dia untuk tidak jadi nelayan cukup besar meskipun sudah dilatih,” kata Pram.
Ketua Usaha Bersama (KUB) Mina Samudra Pantai Samas Tri Jarwanto mengatakan, profesi nelayan memang kurang diminati.
Penyebabnya karena ombak di pantai selatan terkenal cukup tinggi dan besar. Sehingga hal itu cukup menghambat regenerasi nelayan.
“Sebelum melaut sudah takut dulu. Tapi kami berusaha merekrut nelayan baru itu,” ujarnya.
Selain itu, banyak juga yang percaya dengan mitos terkait ombak di pantai selatan. Sehingga banyak orang tua yang melarang anaknya untuk terjun menjadi nelayan.
Tapi, kalau sudah jadi nelayan sungguhan lumayan enak kerjanya.
"Di Pantai Samas sendiri kami mengajari yang muda dengan menjadi ABK dulu. Ada beberapa yang sekarang sudah menjadi nakhoda atau tekong,” ungkap Tri. (tyo)
Editor : Amin Surachmad