Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

UGR Cair, Cukup untuk Beli Tanah dan Bangun Rumah

Editor Content • Sabtu, 5 Maret 2022 | 15:28 WIB
MEGAH: Barjo, 53 warga Padukuhan Sanggrahan RT 4 menunjukkan rumah barunya yang kini masih tahap pembangunan di Dusun Gumuk RT 5 RW 14, Sanggrahan (4/3).(MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)
MEGAH: Barjo, 53 warga Padukuhan Sanggrahan RT 4 menunjukkan rumah barunya yang kini masih tahap pembangunan di Dusun Gumuk RT 5 RW 14, Sanggrahan (4/3).(MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA – Uang ganti rugi (UGR) telah diterima beberapa warga terdampak tol Jogja-Bawen di Kalurahan Tirtoadi, Mlati. Hanya saja, uang yang tersebut hanya cukup untuk membeli tanah dan membangun rumah.

Seperti yang dialami Barjo, 53, warga Padukuhan Sanggrahan RT 4. Dia menerima UGR sekitar Rp 2,5 miliar pada pencairan tahap III November 2021.

Dengan rumah dan lahannya yang terdampak seluas 320 meter persegi. Hanya saja, uang tersebut hanya cukup digunakan untuk membeli lahan dan membangun rumah. "Belum ada niatan membeli kendaraan sekalipun anak saya minta dibelikan motor," ungkapnya saat ditemui di Dusun Gumuk RT 5 RW 14, Sanggrahan kemarin (4/3).

Pria yang berprofesi sebagai sopir pribadi toko pakaian ini mengaku, telah melakukan down payment (DP) tanah jauh-jauh hari. Sebelum UGR dibayarkan untuk mengantisipasi lonjakan harga tanah akibat tol.

Saat itu, lanjutnya, harga tanah yang dibelinya masih di harga Rp 1,25 juta per meter. Sekarang, sudah melonjak minimal Rp 1,5 juta per meter. Saat ini, proses pembangunan rumahnya pun sudah dilakukan.

Namun untuk belanja bahan material saja, sudah menghabiskan Rp 350 juta. Angka tersebut, belum termasuk pembelian keramik dan proses finishing. “Luas rumah 150 meter persegi, dan tinggi empat meter,” bebernya.

Menurutnya, rumah yang dibangunnya berdiri di lahan seluas 900 persegi. Dilengkapi dengan empat kamar tidur, musala, ruang wudu, gudang, ruang keluarga, ruang tamu, dapur, kamar mandi, dan tempat menjemur baju.

Lokasinya pun strategis, menghadap Jalan Selokan Mataram. Meski berlokasi dekat dengan Selokan Mataram dia tak khawatir terkena luapan air dari selokan. "Dulu sini lahan tidak produktif. Lalu saya uruk sampai 105 drump truk. Di sini debit air tinggi hanya separuhnya," sambungnya.

Barjo mengaku, belum memiliki rencana jangka panjang. Terkait usaha apa yang nantinya dikembangkan. Dia berharap rumah yang nantinya dia huni bisa mendatangkan manfaat, membawa berkah. "Saya tak ingin neko-neko membelanjakan uang. Cukup saya gunakan untuk membangun," tandasnya.

Terpisah, Sekretaris Desa Tirtoadi Muhammad Ridwan mengatakan, UGR lahan terdampak tol Jogja-Bawen di Sanggrahan, Pundong 1, 2, 3, dan Jembangan sudah dicairkan. Hanya saja, masih ada yang belum selesai dibayarkan terkait tanah wakaf dua bidang, dan tanah desa sekitar delapan bidang. “Tapi terkait luasan total saya tidak hafal," ungkap Ridwan di rumahnya.

Selain terdampak tol Jogja-Bawen, Kalurahan Tirtoadi juga terdampak tol Jogja-Solo. Namun untuk tol ini, masih dalam tahap pengukuran bidang terdampak. Dilakukan sejak 23 Februari.

Menurutnya, ada 580 total bidang terdampak. Yakni, sepertiga pemukiman warga Sanggrahan, Dusun Simping, Padukuhan Janturan, Kaweden, Ketingan Rajek lor, dan Gombang. Tol Jogja-Solo, juga akan mengenai tiga makam di Kaweden dan di Ketingan satu makam. "Kalau wacana ground breaking atau terobosan, kami belum menerima surat tembusan," bebernya. (mel/eno) Editor : Editor Content
#UGR