Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Belasan Kapanewon di Sleman Rawan Bencana Gerakan Tanah dan Banjir Bandang

Iwan Nurwanto • Minggu, 26 November 2023 | 01:30 WIB
PENGAIRAN BELUM MAKSIMAL: Warga melintas di sawah yang mengering dan gagal tanam di kawasan Sumberagung, Moyudan, Sleman, Rabu (1/11). BMKG mencatat sebaran curah hujan di wilayah DIJ belum merata.
PENGAIRAN BELUM MAKSIMAL: Warga melintas di sawah yang mengering dan gagal tanam di kawasan Sumberagung, Moyudan, Sleman, Rabu (1/11). BMKG mencatat sebaran curah hujan di wilayah DIJ belum merata.

 

SLEMAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman mencatat ada 14 kapanewon berpotensi bencana gerakan tanah hingga banjir bandang. Pada musim hujan seperti sekarang masyarakat pun diimbau waspada.


Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Bambang Kuntoro mengatakan, belasan kapanewon itu di antaranya Kapanewon Berbah dengan potensi banjir bandang.

Lalu, Kapanewon Cangkringan dengan ancaman gerakan tanah atau longsor dari menengah hingga tinggi dan banjir bandang.


Kapanewon Depok berpotensi banjir bandang. Kapanewon Gamping dan Kapanewon Godean memiliki potensi tanah longsor dari menengah hingga tinggi. Kapanewon Kalasan memiliki potensi banjir bandang.


Bambang melanjutkan, Kapanewon Minggir, Kapanewon Mlati, Kapanewon Ngaglik, dan Kapanewon Ngemplak diketahui memiliki potensi banjir bandang.

Kapanewon Pakem dan Kapanewon Prambanan sama-sama memiliki potensi tanah longsor menengah hingga tinggi dan bencana banjir bandang. 


“Sementara untuk Seyegan juga memiliki potensi gerakan tanah menengah hingga tinggi, kemudian Tempel potensi gerakan tanah dan  banjir bandangnya kategori menengah,” ujar Bambang kepada Radar Jogja, Sabtu (25/11).


Terkait dengan ancaman tersebut, Bambang meminta agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Terlebih, dengan sudah mulai masuknya musim hujan seperti sekarang yang meningkatkan berbagai potensi bencana hidrometeorologi.


Menurut Bambang, pihaknya sudah menyiagakan Early Warning System (EWS) pada beberapa titik rawan bencana. Adapun jumlah EWS di Kabupaten Sleman mencapai 37 titik.

Paling banyak berada di kawasan lereng Gunung Merapi dan kapanewon Prambanan. Dari jumlah tersebut ada 12 EWS banjir lahar hujan.


"Sudah kami lakukan perbaikan. Kita cek apakah berbunyi atau tidak. Kabel-kabelnya juga kami cek kembali agar siap menghadapi musim hujan," terangnya.


Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Sleman Makwan menyebut, kabupaten Sleman juga memiliki potensi bencana pohon tumbang. Pada Jumat (24/11) sedikitnya ada delapan titik pohon tumbang yang diakibatkan hujan dengan angin kencang.


Kedelapan titik itu tersebar di Kapanewon Turi, Pakem, Kalasan, Tempel, Mlati, Godean, Ngemplak, dan Seyegan. Adapun di Turi terdapat enam titik pohon tumbang. Terjadi di Kalurahan Wonokerto dan Girikerto.


Lalu di Kapanewon Pakem dan Kalasan masing-masing satu titik pohon tumbang yang menutup akses jalan. Kemudian di Tempel pohon tumbang menimpa rumah.

Di Kapanewon Mlati ada dua titik kejadian pohon tumbang. Di Godean dan Ngemplak satu titik pohon tumbang. Sementara di Seyegan ada dua titik pohon tumbang yang  menimpa rumah.


"Untuk saat ini sudah terkondisi dan dilakukan penanganan,” ungkap Makwan. (inu)

Editor : Amin Surachmad
#Banjir #Bencana #Gerakan Tanah #BPBD Sleman #banjir bandang