Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ada Ratusan Kasus Kekerasan Anak di Sleman, DP3AP2KB: Semakin Banyak Yang Berani Melapor

Iwan Nurwanto • Jumat, 13 Oktober 2023 | 15:15 WIB
 

FOTO// IWAN NURWANTO

LAPORKAN: Kepala DP3P2KB Sleman Wildan Solichin saat ditemui di kantornya. (IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)
LAPORKAN: Kepala DP3P2KB Sleman Wildan Solichin saat ditemui di kantornya. (IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)

 

SLEMAN -  Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana  (DP3P2KB) Sleman mencatat ada ratusan tindak kekerasan terhadap anak. Upaya penanganan secara cepat pun dilakukan instansi tersebut.


Kepala DP3P2KB Sleman Wildan Solichin mengatakan, hingga bulan September ada sebanyak 123 kasus kekerasan terhadap anak yang tercatat di Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA). Dari jumlah itu korban kekerasan 87 diantaranya anak perempuan dan 36 anak laki-laki.

Baca Juga: SMPN 2 Magelang Bentuk Tim Pencegahan Kekerasan, Kapolres Magelang Kota Bicara Soal Pencegahan Perundungan

Ia menyebut, banyaknya kasus kekerasan anak tidak selalu menjadi hal yang buruk. Karena hal itu dapat menjadi bukti bahwa korban kekerasan semakin berani untuk melapor. Sehingga pemkab pun juga lebih cepat dalam melakukan penanganan.


Wildan membeberkan, bahwa kasus kekerasan terhadap anak di kabupaten Sleman juga disebabkan berbagai faktor. Namun secara garis besar masalah ekonomi kerap menjadi salah satu pemicu. Karena berdampak pada keharmonisan orang tua.


"Kami terus lakukan edukasi agar kasus kekerasan terhadap anak bisa dicegah, dan anak tidak menjadi korban," ujar Wildan saat ditemui di kantornya, Kamis (12/10).

Baca Juga: Ada 157 Kasus, Kekerasan pada Perempuan dan Anak di Bantul Meningkat

Merinci tentang upaya pencegahan, mantan Camat Berbah itu mengungkapkan, DP3P2KB Sleman telah bekerjasama dengan berbagai pihak. Contohnya di lingkungan sekolah dengan menjalankan program Goes To School bersama Satpol PP Sleman dan Polresta Sleman.


Melalui kegiatan tersebut, diharapkan anak-anak dapat melakukan kegiatan yang bersifat positif selama berada di dalam lingkungan sekolah. Agar kemudian terhindar dari tindak kejahatan maupun kekerasan.

Baca Juga: STIPRAM Jogja Komitmen Cegah Kasus Kekerasan Seksual di Kampus

Sementara di lingkungan luar sekolah, Wildan menyatakan, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan satuan tugas (satgas) perlindungan anak dan perempuan di setiap kalurahan.

Peran dari satgas itu akan membantu dalam hal pencegahan serta pelaporan, apabila terjadi kekerasan yang melibatkan anak dan perempuan.


"Artinya kami sudah melakukan berbagai upaya dan tindakan cepat agar kasus kekerasan anak bisa tertangani," tegas Wildan.

Baca Juga: Gubernur HB X Klaim Kasus Kejahatan Remaja Turun 83 Persen, Respons Fenomena Kekerasan Remaja di Warmindo

Selain marak kasus kekerasan terhadap anak, Dinas Kesehatan Sleman juga mencatat banyak kasus persalinan anak dibawah umur. Yang penyebabnya karena hubungan seksual diluar nikah.


Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Esti Kurniasih mengatakan, hingga bulan Agustus sudah ada 48 kasus persalinan usia anak/remaja. Dari jumlah tersebut 46 anak diantaranya dari dalam wilayah kabupaten Sleman. Sementara dua sisanya berasal dari luar wilayah.

Baca Juga: Keuntungan Menipis, yang Penting Muter, Harga Beras Tak Kunjung Turun

Pihaknya sudah melakukan berbagai upaya mencegah kasus persalinan usia anak/remaja terus bertambah.  Diantaranya dengan edukasi atau penyuluhan kesehatan reproduksi secara periodik setiap tahun ajaran baru di sekolah-sekolah.


Kemudian, Dinkes Sleman juga rutin melakukan penyuluhan sesuai permintaan atau kebutuhan sekolah. Lalu dengan kegiatan edukasi posyandu remaja. 

Baca Juga: Gelar Doa Bersama untuk Pemilu Damai Bersama Gus Muwafiq Di Mapolda DIY

Selain itu, upaya promotif preventif, melalui kegiatan kampus sehat dan edukasi kesehatan reproduksi bagi mahasiswa baru.


"Untuk upaya yang sudah dilakukan banyak (mencegah persalinan usia anak/remaja)," tegas Esti. (inu)

 
Editor : Amin Surachmad
#anak #kasus kekerasan