Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Midodareni, Rangkaian Ritual Pra Nikah dalam Adat Jawa

Bahana. • Selasa, 4 Februari 2025 | 21:19 WIB

Ilustrasi pernikahan
Ilustrasi pernikahan
RADAR JOGJA - Pernikahan adat Jawa kaya akan ritual-ritual yang sarat makna.

Salah satu yang paling penting adalah Midodareni, yang menjadi rangkaian pra-nikah yang tak hanya berfungsi sebagai acara, tetapi juga sebagai momen penuh harapan dan doa.

Walaupun sering terdengar di telinga masyarakat, banyak yang belum mengetahui secara mendalam makna dan rangkaian dari prosesi ini.

Yuk, kita gali lebih dalam tentang Midodareni yang penuh keunikan ini!

Sama halnya dengan tradisi bachelor party di dunia Barat, suku Jawa memiliki malam Midodareni.

Malam ini merupakan momen terakhir bagi calon pengantin untuk merasakan masa lajang sebelum resmi melangkah ke jenjang pernikahan.

Dikenal juga dengan sebutan malam pangarip-arip, malam Midodareni adalah waktu bagi calon pengantin pria untuk memberikan seserahan kepada calon mempelai wanita.

Di malam yang sakral ini, kedua keluarga juga saling mengenal lebih dekat.

Namun, ada satu aturan penting yang harus diikuti: calon pengantin pria tidak diperbolehkan bertemu dengan calon pengantin perempuan karena sang mempelai wanita akan dipingit di dalam kamar hingga hari pernikahan tiba.

Tirakatan dan Doa Restu Bidadari

Malam Midodareni juga dikenal dengan tradisi tirakatan, sebuah doa bersama yang dipanjatkan dengan khusyuk.

Masyarakat Jawa percaya bahwa pada malam ini, para bidadari dari Kahyangan Syailendra Bawana atau Kahyangan Jonggring Salaka turun ke bumi untuk memberi restu kepada calon pengantin perempuan.

Doa ini diharapkan membuat calon mempelai wanita tampil cantik dan anggun layaknya para bidadari.

Berikut adalah beberapa ritual yang dilakukan dalam rangkaian Midodareni:

Jonggolan

Prosesi pertama yang dilakukan adalah Jonggolan, di mana calon pengantin pria menyambangi rumah calon mempelai perempuan.

Dalam acara ini, calon pengantin pria datang dengan seserahan yang berisi barang-barang kebutuhan sehari-hari, seperti buah-buahan, peralatan mandi, hingga kosmetik.

Jumlah seserahan yang dibawa harus ganjil, sebagai simbol keberuntungan. Calon pengantin pria akan disuguhkan air putih oleh calon ibu mertua, yang juga menjadi simbol penerimaan dalam keluarga.

Tantingan

Setelah prosesi Jonggolan, dilanjutkan dengan ritual Tantingan, dimana calon pengantin wanita akan diberikan kesempatan untuk menerima atau menolak lamaran calon pengantin pria.

Orang tua mempelai perempuan akan mendatangi kamarnya dan menanyakan persetujuannya. Jika menerima lamaran, calon pengantin wanita harus ikhlas dan sepenuhnya menyerahkan keputusan kepada kedua orang tuanya.

Kembar Mayang

Kembar Mayang adalah elemen dekorasi khas Jawa yang tinggi dan besar, hampir setinggi manusia.

Terdapat dua jenis Kembar Mayang, yaitu Kalpandaru dan Dewandaru.

Kalpandaru melambangkan kelanggengan dan kebahagiaan yang abadi bagi pasangan pengantin, sementara Dewandaru melambangkan calon pengantin pria yang kelak akan mengayomi keluarga secara lahir dan batin.

Ini adalah simbol doa dari para dewa yang akan melindungi dan memberikan berkah bagi pasangan yang akan menikah.

Catur Wedha

Selanjutnya, prosesi Catur Wedha, dimana orang tua calon pengantin wanita memberikan wejangan kepada calon pengantin pria melalui empat pedoman hidup rumah tangga yang dikenal dengan sebutan Catur Wedha.

Keempat pedoman ini adalah: Hangayomi (mengayomi), Hangayani (menyejahterakan), Hangayemi (memberikan rasa nyaman), dan Hanganthi (kepemimpinan suami dalam rumah tangga).

Catur Wedha ini biasanya dibingkai dalam sebuah pigura dan diberikan kepada calon pengantin pria sebagai panduan hidup rumah tangga yang bahagia dan penuh berkah.

Majemukan

Prosesi terakhir dalam Midodareni adalah Majemukan, sebuah proses silaturahmi antara dua keluarga dan calon pengantin.

Pada saat ini, calon pengantin wanita memberikan seserahan kepada calon pengantin pria sebagai simbol penerimaan dan keikhlasan.

Barang-barang seperti pakaian dan pusaka, termasuk keris, menjadi simbol bahwa pengantin pria akan melindungi keluarga yang baru dibinanya setelah pernikahan.

Penulis: Abel Alma Putri

Editor : Bahana.
#pernikahan #nikah #midodareni