Para wanita tersebut sering memberikan bantuan kepada ratusan migran yang bepergian dengan kereta api atau yang dijuluki La Bestia menuju Amerika Serikat. Rute tersebut merupakan salah satu rute yang paling berbahaya.
La Bestia sendiri memiliki arti “Si Binatang Buas”. Rute tersebut dikatakan berbahaya karena banyaknya kejahatan terorganisir seperti perampokan, pemerasan, narkoba, dan kekerasan seksual.
Selain itu, banyaknya migran ilegal yang menumpang di gerbong terbuka berisiko terjatuh dan tergelincir ke rel kereta api dari gerbong yang cukup tinggi.
Selain itu, La Bestia yang mengangkut bijih besi tersebut melewati gurun Mauritania yang panas beserta debu yang menyengat, serta tidak ada fasilitas seperti makanan, minuman, atau obat-obatan jika terjadi insiden yang tidak diinginkan.
Kereta api pada rute ini juga tidak turun di stasiun, melainkan migran harus turun di tengah perjalanan yang sangat berbahaya bagi keselamatan mereka.
Meskipun tidak ada jaminan keamanan, banyak migran yang tetap memilih kereta api ini karena harganya yang murah.
Las Patronas telah melakukan aksi mereka sejak tahun 14 Februari 1995. Saat itu, Norma Romero Vázquez bersama saudarinya menunggu kereta api di stasiun.
Kemudian, lewat sebuah kereta api membawa penumpang yang merupakan para migran dari Amerika Tengah berteriak bahwa mereka kelaparan. Saat itu, Norma beserta saudarinya memberikan roti dan susu mereka kepada para migran tersebut.
Melihat itu, ibu mereka, Dona Leonidas memberikan dukungan dengan memasak makanan untuk para migran yang menaiki kereta api tersebut. Bantuan terus dilakukan dengan memasak ratusan porsi makanan setiap harinya untuk dibagikan.
Warga sekitar turut antusias dengan aksi tersebut dan terbentuklah Las Patronas yang diinisiasi oleh Norma Romero Vázquez.
Las Patronas melakukan aksi kemanusiaan dengan memberikan bantuan berupa makanan, minuman, dan lainnya secara gratis kepada para imigran.
Ratusan imigran tersebut merupakan warga Amerika Tengah yang berimigrasi ke Amerika Serikat untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Meskipun tidak menerima dukungan dari pemerintah, Las Patronas terus memberikan bantuan kepada para migran.
Saat kereta api mulai mendekat, para wanita tersebut berlari sekencang-kencangnya sambil melemparkan botol berisi air, kantong berisi makanan, dan bantuan penting lainnya kepada ratusan migran di kereta api tersebut.
Atas aksi kemanusiaannya, Las Patronas menerima Penghargaan Nasional untuk Hak Asasi Manusia (National Prize for Human Rights) pada 2013 dan Penghargaan Solidaritas Putri Asturias (Princess of the Asturias Solidarity Award) pada 2015.
Penulis: Salwa Hunafa
Editor : Bahana.