Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Antisipasi Lonjakan Harga Ramadan, Disperdag Gunungkidul Suplai Bapok ke Pasar Argosari

Yusuf Bastiar • Rabu, 11 Februari 2026 | 15:57 WIB

Kondisi Pasar Argosari pada Rabu sore (11/2)
Kondisi Pasar Argosari pada Rabu sore (11/2)
GUNUNGKIDUL - Menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026, Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja (Disdagnaker) Gunungkidul mulai mengantisipasi potensi lonjakan harga bahan pokok (bapok).

Salah satunya melalui operasi pasar dan suplai komoditas strategis ke Pasar Argosari, Wonosari.

Kepala Bidang Perdagangan Disdagnaker Gunungkidul Ris Heryani mengatakan, operasi pasar ini digelar sebagai langkah preventif agar harga tidak melambung tinggi saat momentum Ramadan,

“Operasi pasar ini dalam menghadapi jelang Ramadan kami mengantisipasi agar lonjakan harga saat Ramadan dan Lebaran Idul Fitri tahun ini tidak melambung tinggi,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya pada Rabu, (11/2/2026).

Sebagai bagian dari operasi pasar, lanjut dia, pihaknya juga menyuplai sejumlah komoditas ke Pasar Argosari.

Di antaranya minyak goreng sebanyak 4 ton, gula pasir 5 ton, serta telur ayam 300 kilogram. Menurutnya, per tiga hari sekali, Pasar Argosari akan disuplai telur sejumlah 300 kilogram.

“Suplai ini kami lakukan tiga hari sekali dan akan berlangsung sampai akhir Februari jumlahnya 2 ton untuk telur ayam. Bertahap, ya,” terangnya.

Selain operasi pasar, juga dilakukan monitoring harga di sejumlah komoditas kebutuhan pokok. Hasil pemantauan sementara, Ris menyebut saat ini harga bapok cenderung relatif stabil dan belum ditemukan kenaikan signifikan.

Kendati demikian, menaruh kewaspadaan pada komoditas cabai. Sebab, kata dia, dua pekan sebelum Ramadanharga cabe justru melejit hingga 80 ribu per kilogramnya.

“Kalau yang monitoring tidak ditemukan harga yang terlalu tinggi. Harga masih stabil. Memang harga daging ayam sempat di atas HET, tapi masih bisa dikendalikan.

Sekarang sudah mulai turun di kisaran Rp 38 ribu per kilogram. Itu masih dalam ranah harga acuan pemerintah,” jelasnya.

Ris menambahkan, jika harga daging ayam sudah menyentuh Rp 40 ribu per kilogram, pedagang diharapkan tidak lagi menaikkan harga. Sebab, angka tersebut sudah berada di batas atas harga acuan pemerintah.

Sementara itu, Kepala Disperdagin Gunungkidul Kelik Yuniantoro menegaskan, operasi pasar merupakan instrumen pengendalian harga menjelang bulan puasa. Ia mengakui, tren kenaikan harga hampir selalu terjadi saat memasuki Ramadan dan Lebaran.

“Kalau kenaikan harga pasti ketika masuk Ramadan dan Lebaran. Tapi kami kendalikan dengan operasi pasar ini,” tegasnya.

Kelik juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying atau pembelian secara berlebihan. Menurutnya, kepanikan justru bisa memicu lonjakan harga di pasaran.

Dengan suplai rutin dan pemantauan harga secara berkala, Kelik berharap stabilitas harga tetap terjaga sehingga daya beli masyarakat tidak terganggu selama Ramadan hingga Idul Fitri mendatang.

“Harapannya warga belanja sewajarnya saja, tidak usah panik atau borong-borong bahan makanan pokok. Ketersediaan stok akan kami jamin selalu ada di pasaran sehingga tidak terjadi kelangkaan,” tandasnya. (bas)

Editor : Bahana.
#lonjakan harga #pasar argosari #Gunungkidul #ramadan