Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ramadan Disebut sebagai Laboratorium Perubahan Perilaku, Ini Penjelasan Psikolog UMY

Winda Atika Ira Puspita • Selasa, 3 Maret 2026 | 20:15 WIB

 

Dosen Fakultas Psikologi UMY, Anita A’isah, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
Dosen Fakultas Psikologi UMY, Anita A’isah, S.Psi., M.Psi., Psikolog.

BANTUL – Bulan Ramadan dinilai bukan hanya momentum peningkatan spiritual, tetapi juga ruang efektif untuk membentuk kebiasaan perilaku positif secara sistematis.

Hal itu disampaikan dosen Fakultas Psikologi UMY, Anita A’isah, S.Psi., M.Psi., Psikolog.

Menurut Anita, dalam perspektif psikologi behavioristik, perilaku manusia dapat dibentuk melalui prinsip pembelajaran.

Konsep modifikasi perilaku yang diperkenalkan BF Skinner menunjukkan bahwa perubahan bisa dilakukan secara bertahap dengan teknik tertentu.

“Pendekatan ini, bahkan dipadukan dengan aspek kognitif dalam cognitive behavior therapy (CBT). Berbagai riset membuktikan efektivitasnya, mulai dari peningkatan keselamatan kerja hingga pengendalian kebiasaan adiktif,” katanya.

Dia menjelaskan, jika teknik ini efektif di berbagai bidang, maka ia juga relevan untuk meningkatkan kualitas ibadah.

Ramadan dapat dipandang sebagai “laboratorium alami” untuk membentuk kebiasaan baik.

Hadis riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa setiap amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya, dan puasa memiliki keutamaan khusus di sisi Allah.

“Momentum ini menjadikan Ramadan waktu strategis untuk membangun perilaku ibadah yang konsisten,” ujarnya.

Salah satu teknik yang dapat diterapkan adalah shaping, yaitu pembentukan perilaku secara bertahap.

Perubahan tidak dilakukan sekaligus, melainkan melalui target kecil yang meningkat secara perlahan.

Teknik reinforcement positif juga penting, terutama pada anak. Pujian yang spesifik dapat memperkuat perilaku baik, seperti apresiasi ketika anak bangun sahur tepat waktu.

Bahkan pada diri sendiri, rasa syukur atas keberhasilan kecil dapat menjadi penguat internal.

Selain itu, Premack Principle dapat diterapkan, misalnya membaca Alquran sebelum membuka media sosial.

Pengaturan lingkungan meletakkan mushaf di tempat mudah dijangkau membantu membentuk kebiasaan baru.

Perubahan juga dipengaruhi modeling. Bergabung dengan komunitas tadarus atau salat berjamaah membuat ibadah lebih ringan.

Lingkungan positif berfungsi sebagai support system yang meningkatkan konsistensi, sebagaimana dibuktikan dalam berbagai penelitian psikologi.

“Selain meningkatkan perilaku baik, Ramadan adalah momentum mengurangi kebiasaan negatif seperti ghibah atau makan berlebihan” jelasnya.

Strategi konsekuensi pribadi, misalnya bersedekah ketika tergelincir dalam ghibah, dapat meningkatkan kesadaran diri.

Mengatur porsi makan saat berbuka juga melatih kontrol diri secara bertahap.

Pada akhirnya, perubahan berawal dari niat tulus karena Allah. Ramadan memberi 30 hari latihan intensif membentuk kebiasaan baru.

Dengan langkah kecil yang konsisten, modifikasi perilaku bukan sekadar teknik psikologi, melainkan ikhtiar spiritual untuk menjadi pribadi yang lebih baik, tidak hanya selama Ramadan, tetapi juga setelahnya. (*/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#perubahan perilaku #psikolog #dosen umy #ramadan