BANTUL - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hari pertama pembagian saat puasa Ramadan menjadi sorotan publik setelah foto menu kering yang dibagikan kepada siswa beredar di media sosial.
Menu tersebut dinilai kurang layak dan belum memenuhi unsur gizi seimbang.
Bahkan SMKN 1 Sewon dilaporkan terdapat menu yang rasanya kecut hingga memicu komplain dari siswa.
Wakil Kepala Sekolah Hubungan Masyarakat dan Hubungan Industri SMKN 1 Sewon Sansiwi Harti membenarkan hal tersebut.
Hari pertama pembagian menu kering pada Senin (23/2/2026) berupa kroket kentang, onde-onde kacang hijau, salak pondoh, dan telur rebus, salah satunya dinilai kurang layak konsumsi.
“Memang ada siswa yang komplain, kebetulan siswanya tidak sedang berpuasa, katanya kroketnya kecut,” jelasnya saat ditemui di ruang kerjanya Selasa (24/2/2026).
Menindaklanjuti aduan tersebut, pihaknya langsung berkoodinasi dengan SPPG Pendowoharjo 2.
Sekolah juga menyampaikan imbauan kepada siswa, guru, dan wali murid agar mengecek kelayakan makanan sebelum dikonsumsi.
Terutama karena menu kroket kentang tersebut termasuk dalam makanan basah dan dibagikan saat puasa.
Terkait dengan kandungan gizi menu kering yang dibagikan, kata dia, setiap harinya SPPG menginformasikan kandungan gizinya.
Baik itu porsi kecil maupun porsi besar yang disesuaikan dengan siswa maupun guru penerima manfaat.
“Menu-menunya sudah dituliskan analisis kandungan gizi dari sana (SPPG, Red), misalnya berupa energi ditulis di porsi kecil dan porsi besar,” tuturnya.
Contohnya menu hari ini Selasa (24/2/2026) pada prosi kecil berupa roti sosis mania, bakpia kacang hijau, dan buah pir.
Kandungan gizinya berupa energi 322,80 kkal, protein 6,46 gram, lemak 7,42 gram, karbohidrat 61,40 gram, dan serat 8,25 gram.
Sedangkan menu dalam porsi besar berupa roti sosis mania, bakpia kecing kacang hijau, buah pir, dan keju slice.
Kandungan gizinya berupa energi 331,1 kkal, protein 6,63 gram, lemak 8,19 gram, karbohidrat 61,91 gram, dan serat 8,25 gram.
Ia mengatakan, pembagian MBG memang dibagikan lebih awal.
Sebab bulan puasa, siswa pulang lebih awal.
"Jadi pembagian MBG lebih awal sekitar jam sembilan sampai jam setengah sepuluh pagi,” katanya.
Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Bantul Hermawan Setiaji mengatakan, telah melakukan koordinasi dengan PIC sekolah, melaporkan kejadian kepada Korwil dan Kepala Regional, dan berkoordinasi dengan unsur-unsur wilayah setempat terkait adanya aduan tersebut.
"Sehingga ketika terjadi komplain kemudian kekurangpuasan terkait dengan menu, nanti saat itu juga bisa langsung diselesaikan," katanya.
Ia berharap setiap ada aduan tidak sampai ke luar.
Namun, diselesaikan terlebih dahulu di internal.
Mengantisipasi kejadian serupa, pihaknya telah berkoordinasi dengan koordinator MBG di Bantul untuk menyampaikan kepada seluruh koordinator dan pengelola SPPG agar memastikan kualitas gizi sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.
“Harapannya biar peristiwa itu tidak terjadi di tempat lain,” terangnya.
Sebenarnya, kata dia, dari hasil klarifikasi menu MBG hari pertama di sekolah tersebut telah memenuhi gizi.
Ia mengimbau kepada SPPG yang ada di Bantul untuk terus menjaga kualitas dan kesehatan menu.
Selain itu, ia meminta SPPG yang belum memiliki SLHS segera mengurusnya. Sebab, di Bantul baru ada sekitar 40 SPPG yang telah memiliki SLHS.
“40 dari 100-san SPPG, masih separo yang belum, masih kita terus dorong,” pungkasnya. (cin)
Editor : Meitika Candra Lantiva