SLEMAN - Saat bulan Ruwah, dalam penanggalan Jawa, jelang Ramadan masyarakat kerap kali memilih untuk wisata religi. Salah satu yang bisa jadi pilihan adalah Makam K.H.R. Bagus Khasantuka dan Sendang Bagusan.
Wisata ini terletak di Dusun Senuko, RT 05, RW 02, Kalurahan Sidoagung, Kapanewon Godean. Tidak ada biaya retribusi yang dikenakan di sini. Termasuk biaya parkir. Walau demikian, fasilitasnya cukup lengkap. Mulai dari lahan parkir yang luas, masjid, dan kamar mandi. Suasananya juga sejuk lantaran banyak pohon di sekitar.
Salah satu pengelola wisata yang diminta disapa Mbah P menyebut, rata-rata kunjungan harian seratus hingga dua ratus orang. Namun, ketika jelang Ramadan jumlahnya bisa mencapai ribuan. "Operasional kami dari dana infak ini. Nanti dikelola oleh paguyuban," katanya.
Mbah P mengatakan, mayoritas pengunjung berasal dari pondok pesantren NU. Asalnya dari beragam daerah, termasuk dari Jawa Timur dan Jawa Barat.
Laki-laki yang sudah menjadi pengelola selama 24 tahun ini mengatakan, K.H.R. Bagus Khasantuko adalah putra dari Amangkurat III. Sosoknya spesial, bahkan jika dibandingkan dengan wali yang lain. "Di atas rata-rata wali. Beliau punya karamah, tidak semua ulama punya itu," ucapnya.
Dipercaya dengan berdoa di makam ini maka apa pun keinginan pasti akan terkabul. Asalnya masih dalam soal kebaikan. Nama K.H.R. Bagus Khasantuko juga spesial. Mbah P menuturkan nama kyai tersebut jadi asal mula wilayah setempat. "Nama beliau Khasantuko, di sini Dusun Senuko. Mirip. Itu karena lidah Jawa yang menyebut jadi agak berbeda," katanya.
Mbah P menyebut, K.H.R. Bagus Khasantuko atau Raden Bagus Kemuning ini dulu mencari ilmu keagamaan pada ulama-ulama sepuh di Tanah Jawa. Meski memiliki darah biru, beliau hidup sederhana dan tidak tinggal di keraton. "Beliau juga belajar di Sri Lanka lima atau enam tahun," tambahnya.
Berdasarkan pengamatan Radar Jogja, beberapa kali terlihat pengunjung datang dengan bis dan mobil. Saat memasuki makam, mereka akan menggelar karpet yang telah disediakan. Bisa di dekat makam K.H.R. Bagus Khasantuko atau di area bawah milik dua santrinya yang juga ikut di makamkan.
Di tiga makam tersebut banyak pengunjung terlihat berdoa dengan khusyuk. Selanjutnya, mereka akan menuju Sendang Bagusan. Beberapa ada yang mencuci tangan dan muka. Sebagian bahkan berenang di dalamnya.
Mbah P bercita, berbagai kegiatan memang bisa dilakukan di sendang ini. Beberapa pengunjung bahkan langsung meminum air dan membawanya pulang sebagai oleh-oleh. "Di minum langsung itu sehat. Tapi ikan di dalamnya bukan untuk konsumsi," katanya.
Dia menyebut, selama ratusan tahun air Sendang Bagusan ini tidak pernah surut. Bahkan, saat kemarau airnya tetap deras dan menjadi sumber pengairan warga. (del/pra)