KULON PROGO - Capaian pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata tak sesuai dengan target. Dinas Pariwisata Kulon Progo beralasan faktor cuaca jadi penyebab turunnya jumlah pengunjung. Dampaknya dirasakan pada retribusi masuk objek wisata yang juga mengalami penurunan.
Kepala Dinas Pariwisata Kulon Progo Joko Mursito membenarkan capaian PAD sektor pariwisata tak sesuai target yang ditetapkan. Di 2024, PAD sektor pariwisata hanya mencapai presetase 87 persen dari target. Jika dinominalkan berkisar Rp 7,8 miliar dari target Rp 8,2 miliar. "Ada beberap faktor yang mempengaruhi, tren kunjungan dan cuaca," ucap Joko, Selasa (7/1).
Joko menyampaikan, penyebab utama turunnya PAD dikarenakan perolehan retribusi di objek wisata mengalami penurunan. Lantaran, jumlah kunjungan wisatawan ke objek wisata yang dikelola daerah tak memenuhi harapan. Hal itu, cukup berdampak pada kontribusi pariwisata ke daerah.
Turunnya jumlah kunjungan disebabkan di antaranya perubahan tren kunjungan, dan cuaca ekstrem. Tahun lalu, kata dia, terjadi perubahan tren kunjungan di Bumi Binangun. Objek wisata yang dikelola pemerintah justru banyak ditinggal pengunjung. Akibatnya, tak ada pemasukan dari retribusi yang ditarik dari objek wisata. "Kebanyakan pengunjung sekarang lebih memilih ke desa wisata," ujarnya.
Tren perubahan ini merujuk pada banyaknya wisatawan yang justru berkunjung di desa wisata. Mereka memilih paket, yang sebenarnya tak memberikan retribusi untuk daerah. Kebanyakan desa wisata dikelola masyarakat dan yak dikenai retribusi.
Selain itu, cuaca buruk juga menjadi alasan pihaknya tak bisa menggenjot PAD. Kejadian ini terlihat di libur panjang akhir 2024. Cuaca ekstrem menurunkan minat masyarakat untuk berkunjung ke objek wisata. "Cuaca buruk memang kurang menguntungkan bagi sektor wisata," tegasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua 2 DPRD Kulon Progo Suharto menyampaikan, Dinas Pariwisata memiliki pekerjaan rumah. Peningkatan PAD salah satu bagian terpentinya. Lantaran, dinas tersebut dinilai cukup banyak menerima dana keistimewaan. "Kami mendorong dana keistimewaan mampu menggeliatkan pariwisata di daerah, khususnya yang menyumbang PAD," ucapnya.
Suharto menyampaikan, pariwisata perlu dibangun dari berbagai sektor. Kasus di Bumi Binangun menunjukkan sektor infrastruktur perlu digenjot. Tujuannya, untuk menghubungkan dan memudahkan wisatawan yang berkunjung. (gas/pra)
Editor : Heru Pratomo