SLEMAN - Sentra Industri Kerajinan Bambu Sendari berada di Kalurahan Tirtoadi, Mlati, Sleman. Sentra Bambu Sendari memiliki sejarah panjang. Berdiri sejak 1960-an dan eksis hingga sekarang. Dalam perkembangan, pernah mengalami kejayaan pada dekade 1990-an. Berbagai produk furnitur maupun gazebo yang dihasilkan mampu menembus pangsa pasar mancanegara. Di antaranya diekspor ke Jepang, Korea, Jerman dan Spanyol. Ada pula yang ke Amerika Serikat serta Prancis.
Sejumlah perajin di Sentra Industri Kerajinan Bambu Sendari ingin kejayaan yang pernah mereka rasakan bisa kembali. Di tengah harapan besar itu, berbagai kendala mengemuka. Mulai dari menurunnya permintaan, keterbatasan tenaga kerja terampil, soal lahan, hingga minimnya fasilitas pendukung kawasan.
Baca Juga: Korban Keracunan di Turi Sleman Bertambah Jadi 69 Orang, Dua di Antaranya Masih Opname
“Kami ingin berbagai persoalan itu bisa dipecahkan,” harap beberapa perajian saat bertemu dengan Pimpinan dan Anggota Komisi B DPRD DIY yang berkunjung ke Sentra Industri Industri Kerajinan Bambu Sendari, pada Kamis (27/8) lalu.
Menanggapi itu, Anggota Komisi B DPRD DIY Yan Kurnia mengatakan, inovasi produk menjadi salah satu faktor utama mengembalikan daya saing Kerajinan Bambu Sendari. Produk yang dihasilkan perlu disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan pasar. “Kuncinya adalah inovasi produk kalau pasarnya mau bertahan,” ucap Yan.
Dikatakan, kerajinan itu adalah tren. Kalau produknya tidak berinovasi, bakal ketinggalan dengan produk-produk lainnya. Wakil rakyat dari Dapil Sleman selatan itu mengingatkan, pentingnya kepastian legalitas tempat usaha. Menurut dia, status lahan yang jelas akan memberikan perlindungan dan kepastian bagi para perajin mengembangkan usahanya. “Legalitas tempat usaha itu penting,” ingatnya.
Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD DIY itu mendorong penguatan Sentra Industri Kerajinan Bambu Sendari. Selain inovasi produk dan kepastian legalitas usaha, perlu pula didukung dengan akses permodalan, dan perluasan pemasaran.
Wakil Ketua Komisi B DPRD DIY Danang Wahyu Broto menjelaskan, kunjungan t dilakukan untuk mengetahui secara langsung kondisi dan persoalan yang dihadapi para pelaku usaha. Dia ingin berdiskusi ini sehingga dapat menjadi bahan rapat kerja komisi. Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD DIY itu juga ingin kehadiran anggota dewan sebagai wakil rakyat bisa memberikan solusi atas masalah-masalah yang dihadapi para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), termasuk di Sentra Kerajian Bambu Sendari.
Baca Juga: Mental Pemain Masih Kuat usai Kalah dari Bali United, Huistra Berharap Timnya Terus Raih Kemenangan
Menurut Danang, sentra kerajinan seperti Sendari memiliki keterkaitan dengan sektor pariwisata dan perekonomian daerah. Karena itu, pengembangannya membutuhkan sinergi. Melibatkan pelaku usaha, pemerintah daerah, lembaga keuangan, dan sektor pariwisata. Dalam kunjungan itu, hadir sejumlah mitra kerja Komisi B yang terkait dengan UMKM. Ada dari Dinas Pariwisata DIY, Dinas Koperasi dan UKM DIY, Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY serta perwakilan Bank BPD DIY.
Dalam diskusi itu bakal menjadi bahan Komisi B DPRD DIY menentukan langkah pengembangan UMKM ke depan. Di antaranya, menyangkut modal, Bank BPD DIY menawarkan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang dapat dimanfaatkan para perajin mengembangkan usaha, termasuk melakukan inovasi produk maupun memperbarui peralatan produksi.
Bank BPD DIY juga membuka peluang pemanfaatan CSR untuk mendukung pembangunan showroom bersama. Dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY menawarkan pelatihan desain dan pengembangan produk fungsional dan teknologi pengawetan bambu. Ini dalam rangka meningkatkan kualitas dan daya saing produk.
Sedangkan Dinas Koperasi dan UKM DIY mendorong penguatan pemasaran digital. Para perajin dapat memanfaatkan media sosial dengan membuat konten yang tidak hanya menampilkan produk, tapi juga proses pembuatan kerajinan untuk menarik pasar yang lebih luas.
Baca Juga: Ratusan Ibu-Ibu di Jogja Long March sambil Pukul Panci, Desak Pemerintah Hentikan Program MBG
Potensi pengembangan Sentra Industri Kerajinan Bambu Sendari sebagai destinasi wisata menjadi perhatian Dinas Pariwisata DIY. Konsepnya experience tourism dengan menghadirkan pengalaman ke wisatawan melihat secara langsung proses produksi kerajinan bambu. Konsep tersebut membutuhkan dukungan fasilitas dasar. Di antaranya, seperti toilet, ruang tunggu, gapura, dan etalase bersama agar lebih siap menerima kunjungan wisatawan.
Dari kunjungan dan diskusi terbuka itu, Komisi B DPRD DIY menilai, inovasi, penguatan modal, legalitas usaha, pemasaran digital, dan pengembangan wisata diharapkan mampu meningkatkan kembali daya saing Sentra Industri Kerajinan Bambu Sendari. “Sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat,” tandas Danang. (kus)
Editor : Sevtia Eka Novarita
Sumber : Radar Jogja