SLEMAN - SDN Nglarang di Nglarang, Tlogoadi, Mlati, Sleman terdampak pembangunan tol Jogja-Solo paket 2.2. Rencananya tiga ruang kelas akan segera dirobohkan agar proyek strategis nasional ini terus berjalan. Sembari menunggu pembangunan gedung sekolah baru di satu padukuhan yang sama, sebagian siswa akan belajar di ruang sementara.
Pantauan Radar Jogja lokasi baru SDN Nglarang masih berupa kebun. Lahannya dipenuhi dengan rumput dan tanaman liar. Lokasinya juga terbelah oleh aliran sungai kecil.
Belum tampak adanya jejak pembangunan dan hanya ada sejumlah patok kayu berwarna merah putih. Jalan masuk menuju lokasi juga masih berupa batu-batu kasar.
Kepala SDN Nglarang, Endah Sri Sulistyowati menjelaskan, memang lokasi baru masih utuh dan belum ada progres pembangunan apa pun. Jika ditinjau lokasinya juga masih ada kolam-kolam yang di dalamnya masih ada ikannya. Sampai saat ini dia belum mengetahui kapan pembangunan mulai dilakukan.
Baca Juga: BPS Kulon Progo Canangkan Tiga Desa Cantik, Pembangunan Harus Didasarkan Data Bukan Perasaan
"Dari kesepakatannya dibangun selama enam bulan. Tapi belum tahu maksimal dimulai kapan," katanya ditemui di SDN Nglarang, Kamis (23/4).
Lokasi baru yang berada di wilayah cekungan juga jadi perhatian tersendiri. Harapannya nanti dilakukan urug lebih tinggi agar lebih nyaman. Berdasarkan informasi yang dia peroleh di lokasi baru ini akan dibangunkan enam ruang kelas, ruang guru, ruang komputer, dan toilet. Nantinya juga akan ada bantuan tambahan dari Pemerintah Kabupaten Sleman.
Perempuan yang baru menjabat pada Selasa (21/4) lalu ini mengaku, saat ini pihak sekolah masih fokus pada penataan ruang kelas sementara. Nantinya siswa kelas 4 akan menggunakan ruang perpustakaan.
Sementara kelas 5 dan 6 menggunakan aula yang disekat. Untuk meja maupun kursi sudah dilakukan pemindahan. Sementara almari dan furnitur lain disimpan sementara di area perparkiran maupun rumah wali murid.
"Kalau untuk kelas satu, dua, dan tiga tetap karena tidak terdampak," tambahnya.
Endah mengakui, jika dua ruang kelas yang berbatasan saling disekat jelas memengaruhi kondusifitas belajar. Untuk itu guru harus saling bergantian memberi pemaparan agar tidak saling saut-sautan. Proses pembelajaran sementara ini jika terlalu lama dia yakini juga tidak nyaman dan berdampak pada psikis siswa.
Di sisi lain, pembangunan tol yang berlangsung di area sekolah memang riskan suara berisik maupun keamanan karena ada penggunaan alat berat. Harapannya pagar pembatas dari kontraktor bisa jadi antisipasi keamanan yang optimal.
"Anak-anak ada 176 orang. Kalau pengawasan kami kurang tentu bahaya," ujarnya.
Sementara itu, Humas Proyek Tol Jogja-Solo-YIA Area DIJ PT Adhi Karya (Persero) Tbk, Agung Murhandjanto menjelaskan, untuk perobohan tiga ruang kelas dilakukan dalam tentang waktu Jumat (24/4) hingga Selasa (5/5).
Baca Juga: Tips Aman Mengkonsumsi Melinjo yang Dicap Menjadi Penyebab Asam Urat
Lokasi kelas ini nantinya akan digunakan sebagai kaki timbunan proyek tol. Sementara untuk sekolah baru dia sebut baru akan diselenggarakan selametan sebagai bagian dari proses sosialisasi pada Kamis (7/5) mendatang.
"Kalau pembangunan tentu nanti harus ada proses lelang dulu. Termasuk pengurukan juga," ujarnya. (del)
Editor : Bahana.