Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bukan Sekadar Jargon, Ini Arti dan Kepanjangan ‘Sleman Sembada’ yang Dipakai sejak 1991

E
Penulis: Editor Content❯
HUT SLEMAN : Kirab Bedhol Praja memasuki Lapangan Denggung sebagai rangkaian acara Hari Jadi Ke-107 Kabupaten Sleman, Senin (15/5). (ANNISSA KARIN/RADAR JOGJA)
HUT SLEMAN : Kirab Bedhol Praja memasuki Lapangan Denggung sebagai rangkaian acara Hari Jadi Ke-107 Kabupaten Sleman, Senin (15/5). (ANNISSA KARIN/RADAR JOGJA)

Advertisement

 

 

SLEMAN - Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman yang diperingati pada Jumat, 15 Mei 2026, menjadi momentum krusial untuk merefleksikan kembali arah pembangunan daerah. Guna mengoptimalkan roda pembangunan di bumi Laskar Sembada, diperlukan acuan kuat yang mampu memotivasi serta mengerahkan seluruh potensi masyarakat secara terpadu.

Advertisement

Menengok rekam jejak historisnya, Kabupaten Sleman telah memancangkan fondasi pergerakan tersebut sejak 2 Maret 1991 melalui pencanangan slogan gerakan pembangunan desa terpadu: Sleman Sembada.

Langkah ini kemudian diperkuat secara hukum melalui Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 1992. Gerakan ini sejatinya merupakan sebuah manifesto pembangunan yang berprinsip dari, oleh, dan untuk masyarakat Sleman dengan mengandalkan kekuatan serta swadaya sendiri.

Advertisement

Meskipun secara formal Sleman Sembada menjadi regulasi dan identitas era modern, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya bukanlah hal baru. Slogan ini merupakan kristalisasi serta formulasi mendalam dari nilai-nilai budaya dan kehidupan keseharian masyarakat Sleman yang telah mengakar lintas generasi.


Kepribadian Pantang Menyerah

Secara filosofis, kata Sembada (dalam bahasa Jawa) memiliki makna utuh sebagai sikap dan perilaku rela berkorban serta bertanggung jawab. Karakter ini menuntut kesiapan masyarakat untuk menjawab dan mengatasi berbagai tantangan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam, demi kepentingan dan kesejahteraan bersama.

Lebih dari sekadar kata, Sembada adalah perwujudan kepribadian kolektif yang pantang menyerah, tabu berkeluh kesah, menepati janji, taat asas, dan bertekad bulat.

Secara harfiah, akronim slogan SLEMAN SEMBADA dijabarkan ke dalam delapan pilar kondisi ideal masyarakat, yaitu:

  • S: Sehat

  • E: Elok dan Edi

  • M: Makmur dan Merata

  • B: Bersih dan Berbudaya

  • A: Aman dan Adil

  • D: Damai dan Dinamis

  • A: Agamis

Melalui implementasi nilai-nilai luhur tersebut, muara akhir yang ingin dicapai oleh pemerintah daerah bersama warga adalah mewujudkan tatanan Kabupaten Sleman yang Sejahtera, Lestari, dan Mandiri (LE-MAN).

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Kalahkan PSS Sleman, Bos Garudayaksa FC Minta Maaf ke Publik Bumi Sembada

Kalahkan PSS Sleman, Bos Garudayaksa FC Minta Maaf ke Publik Bumi Sembada

Keriuhan pecah di Maguwoharjo International Stadium (MaglS) saat peluit panjang dibunyikan. Namun ada nada emosional yang terselip di balik euforia gelar juara Garudayaksa FC pada Championship musim 2025/2026.

Langgar Batas Kesepakatan 300 Meter, Warung Kelontong di Kalasan Akhirnya Ditutup

Langgar Batas Kesepakatan 300 Meter, Warung Kelontong di Kalasan Akhirnya Ditutup

Warung kelontong di Cupuwatu I, Kalasan, Sleman, ditutup setelah dinilai melanggar kesepakatan jarak minimal antarwarung 300 meter. Polisi memediasi perselisihan warga.

Anggota DPRD Sleman Lilik Dwi Wahyana SE; Dongkrak PAD, Maksimalkan Sewa Barang Milik Daerah

Anggota DPRD Sleman Lilik Dwi Wahyana SE; Dongkrak PAD, Maksimalkan Sewa Barang Milik Daerah

PEMERINTAH Kabupaten Sleman memiliki banyak aset yang bisa dimanfaatkan publik dengan sistem sewa. Seperti stadion, gelanggang olahraga, gedung serba guna, wisma, hingga lapangan. Semuanya tergolong barang milik daerah

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer