Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Disperindag Sleman Gandeng Peternak Babi dan Kambing untuk Olah 40 Ton Sampah dari 32 Pasar

Delima Purnamasari • Jumat, 16 Januari 2026 | 22:30 WIB

Kepala Bidang Pengelolaan Fasilitas Perdagangan Tradisional Disperindag Sleman Purwoko Haryadi
Kepala Bidang Pengelolaan Fasilitas Perdagangan Tradisional Disperindag Sleman Purwoko Haryadi


SLEMAN - Timbunan sampah dari 32 pasar tradisional di Kabupaten Sleman mencapai 40 ton setiap harinya. Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman pun berupaya untuk mengolah sampah yang mayoritas organik. Dengan menggandeng peternak babi dan kambing.

"Setiap hari mereka bisa sortir dan ambil gratis karena memang bukan aset kami. Dengan ini kami sudah merasa terbantu," sebut Kepala Bidang Pengelolaan Fasilitas Perdagangan Tradisional Disperindag Sleman Purwoko Haryadi Kamis (15/1).

Baca Juga: Jelang Putaran Kedua, Suporter PSIM Jogja Angkat Isu Fokus Tim serta Tiket Disabilitas dan Pelajar

Lewat bantuan para peternak, dia sebut timbulan sampah yang tersisa tinggal sekitar 18 ton setiap harinya. Setara dengan tiga truk. Sampah ini tidak bisa diambil peternak karena kondisinya yang kerap sudah tidak layak. Di sisi lain, sampah sisa ini juga masih tercampur dengan jenis organik, seperti plastik dan kardus.

Purwoko menyebut, upaya yang tengah digencarkan memang membuat program pengomposan. Salah satu yang dinilai cukup berhasil adalah Pasar Prambanan karena memiliki sekitar 140 komposter. Ini didapat dari stimulan dari program CSR perusahaan. "Harapan kami tentu pasar-pasar yang lain bisa mengikuti," katanya.

Baca Juga: Petani Pesisir Selatan Gunungkidul Sudah Mulai Panen, Produktivitas Padi Gogo Lahan Kering Capai 5,3 Ton per Hektare

Dia juga tidak menampik bahwa untuk mengatasi sampah sisa ini petugas pasar masih melakukan pembakaran sampah. Diakui memang tidak sesuai standar. Namun, ini dianggap sebagai jalan satu-satunya yang memungkinkan. Mengingat kuota TPA Piyungan yang dibatasi dan alat pengolahan yang mahal.

Dinasnya, juga telah menemui berbagai tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS3R). Untuk nantinya bisa mengolah sampah yang tersisa ini. "Tidak hanya satu dua yang kami datangi. Tapi kapasitasnya penuh atau kesulitan menyalurkan kompos yang diproduksi," katanya.

Baca Juga: Modifikasi Cuaca di Jepara, Kudus, dan Pati Dilakukan hingga 20 Januari

Sementara itu, salah satu petugas kebersihan Pasar Sleman Eko Yulianto mengaku, masih membakar sampah sekitar empat keranjang sehari. Umumnya untuk sampah kardus basah dan plastik-plastik produk eceran. "Memang tidak ada pilihan selain membakar. Tempat pengolahan juga terbatas," katanya. (del/eno) 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#TPS3R #timbunan sampah #kambing #Disperindag Sleman #Sampah #pasar tradisional #Kabupaten Sleman #dinas perindustrian dan perdagangan #babi #peternak