SLEMAN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman telah memiliki tiga tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) dan dua di antaranya sudah beroperasi. Direncanakan juga akan ada penambahan TPST yang berlokasi di Kapanewon Moyudan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sleman Dwi Ananta Sudibyo menjelaskan, pembangunan TPST keempat tersebut direncanakan pada 2025. Harapannya, pengelolaan sampah bisa lebih mapan.
Dia menyebut, ada 320 ton sampah Kabupaten Sleman yang dikirim ke TPA Piyungan setiap hari sebelum ada kebijakan desentralisasi. Sehingga, pemerintah kabupaten setidaknya bisa mengolah sampah dengan jumlah yang sama. "Belum kalau ada perkembangan penduduk yang menghasilkan tambahan sampah," katanya.
Dua TPST yang sudah beroperasi adalah TPST Tamanmartani di Kapanewon Kalasan dan TPST Sendangsari di Kapanewon Minggir. Lalu ada TPST Donokerto di Kapanewon Turi yang telah selesai dibangun.
"Untuk alat TPST Donokerto nanti dua modul dari APBD dan satu dari dana keistimewaan," katanya.
Dibyo menjelaskan, dengan tiga modul, setiap TPST sebenarnya bisa mengolah sampah hingga 90 ton per hari. Namun, apabila sudah bisa mencapai 60 ton untuk tiap TPST, maka ada 240 ton sampah yang diolah setiap harinya.
"Teknologi yang digunakan adalah dengan mengubah sampah jadi bahan bakar refuse derived fuel (RDF)," katanya.
Selanjutnya, pada 2026 atau 2027, direncanakan akan penambahan dua TPST lagi. Dengan demikian, Kabupaten Sleman memiliki enam TPST. "Kalau enam TPST masing-masing mengolah 60 ton itu sudah 360 ton. Sleman bisa tuntas sampah," ucapnya.
Di sisi lain, di transfer depo juga telah dilengkapi alat pengolahan. Masing-masing ditargetkan bisa mengolah 5 ton sampah dalam sehari.
"Dikonsepkan sampah di tempat itu harus bisa tuntas. Jangan sampai dibawa piknik ke sana, ke mari," ucapnya.
Walau demikian, Dibyo menjelaskan perencanaan pengentasan sampah ini juga harus turut diikuti dengan kesadaran masyarakat. Utamanya untuk mengolah sampah masing-masing.
"Jadi ketika ada perkembangan penduduk, tambahan sampahnya juga tidak terlalu banyak," jelasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sleman Epiphana Kristiyani menyebut, TPST Donokerto direncanakan bisa beroperasi pada Juni 2025. Pengadaan peralatannya tidak melalui lelang, tetapi menggunakan e-katalog.
"Dari e-katalog kemudian kami pilih dan beli," ujarnya. (del/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita