SLEMAN - Kebutuhan hewan ternak seperti sapi dan kambing diprediksi meningkat menjelang Hari Raya Idul Adha 1445 Hijiriah. Pemkab Sleman pun meminta agar masyarakat tidak membeli hewan ternak dari wilayah endemik penyakit seperti antraks.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Suparmono mengatakan, untuk tahun ini pihaknya memang tidak menutup peredaran ternak dari wilayah endemik antraks. Salah satunya dari kabupaten Gunungkidul.
Meksipun demikian, pihaknya tetap melakukan berbagai upaya pencegahan. Sehingga ternak yang masuk ke kabupaten Sleman benar-benar merupakan hewan yang sehat.
Pram, sapaan Suparmono, mengungkap langkah-langkah yang dilakukan untuk mencegah di antaranya dengan mengedukasi masyarakat agar tidak membeli ternak dari wilayah endemik antraks.
Kemudian, ternak yang masuk ke kabupaten Sleman pun wajib dilengkapi persyaratan administrasi kesehatan. Yakni berupa hasil tes dari laboratorium yang menunjukkan hewan sapi ataupun kambing bebas dari antraks dan penyakit mulut dan kuku (PMK)
“Misalnya ada ternak yang memang berasal dari endemik antraks, harus dibuktikan bahwa ternak tersebut sudah divaksin antraks,” ujar Pram saat dikonfirmasi, Senin (27/5).
Pram menyebut, bahwa kebutuhan ternak saat Idul Adha memang cukup tinggi. Namun disisi lain ketersediaan dari peternak lokal belum mencukupi. Contohnya untuk kebutuhan sapi di Bumi Sembada mencapai 9.600 ekor, namun ketersediaannya hanya 3.892 ekor.
Lalu kebutuhan domba juga mencapai 2.700 ekor namun ketersediaannya hanya 1.468 ekor. Defisit paling banyak terjadi pada kambing, karena ketersediaannya hanya 1.260 ekor namun kebutuhannya mencapai 12.100 ekor.
“Untuk mencukupi kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dari pemasukan ternak melalui kelompok-kelompok ternak, pasar kurban, pelaku usaha ternak yang lain, dan pembelian langsung dari luar daerah,” terang Pram.
Lebih lanjut, dia pun juga mengevaluasi peredaran ternak dari wilayah Gunungkidul. Hal itu menyusul adanya temuan kasus pada medio bulan Februari lalu di kapanewon Prambanan tepatnya Pdukuhan Kalinongko Kidul, Gayamharjo. Kasus di wilayah tersebut menyebar akibat tradisi brandu yang dilakukan oleh masyarakat setempat.
“Pada tahun 2024, terjadi kasus penyakit Antraks di wilayah Gayamharjo Prambanan sehingga pengawasan ternak diperketat,” imbuhnya.
Sementara itu, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menyampaikan, bahwa kasus antraks di kalurahan Gayamharjo sudah ditangani dengan baik. Upayanya dilakukan dengan kegiatan vaksinasi yang bekerjasama dengan Kementerian Pertanian RI.
Pasca temuan kasus di wilayah tersebut, Kustini pun meminta agar masyarakat lebih waspada terhadap penularan penyakit antraks. Yakni dengan langsung membawa ternak yang sakit ke puskeswan.
“Dengan begitu akan dilakukan upaya mitigasi lebih lanjut,” katanya beberapa waktu lalu. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin