RADAR JOGJA - Banyaknya produsen gudeg di Jogjakarta membuat Surya Adhi Nugraha berpikir untuk memanfaatkan minyak kelapa hasil blondo. Sebab salah satu bahan baku gudeg adalah blondo, yakni santan kelapa yang diendapkan. Surya pun menciptakan ide untuk meningkatkan kualitas minyak kelapa hasil blondo yakni minyak klentik.
Sejak lulus kuliah pada 2015, Surya langsung menguji coba cara untuk membuat pemurnian minyak kelapa dari rumahnya yang berada di Padukuhan Mayangan, Kalurahan Trihanggo, Gamping, Sleman. Hal itu melihat kebutuhan minyak kelapa di masyarakat naik karena komunitas organik semakin berkembang. “Seiring berjalannya waktu kesadaran manusia terhadap makanan sehat semakin naik, otomatis permintaan minyak kelapa semakin naik,” ujarnya saat ditemui Radar Jogja di rumahnya, Jumat (9/2).
Namun di satu sisi, produsen bahan baku minyak kelapa turun karena generasi muda tidak mau melanjutkan usaha yang dirintis oleh generasi di atasnya. Karena minyak klentik melimpah di Jogjakarta. Maka Surya berpikir bagaimana caranya supaya minyak klentik tetap lestari. “Dengan cara mengakomodir produsen minyak mentah atau klentik untuk kemudian dimurnikan supaya lebih awet,” katanya.
Hal itu ia lakukan karena minyak mentah yang berbahan baku selain kelapa tidak awet. Hanya bertahan satu bulan dan sudah berbau tengik. Dia proses supaya menjadi produk yang lebih tahan lama. Akhirnya terciptalah produk minyak kelapa yang ia beri nama ‘Tropicoco’.
“Supaya naik kelas karena kalau minyak klentik belum bisa disebut minyak makan, masih mentah. Nah gimana caranya minyak klentik yang manfaatnya bagus itu bisa dilestarikan dan naik kelas,” ungkap lulusan jurusan Farmasi Universitas Sanata Dharma ini.
Hingga kini, Surya memproduksi pemurnian minyak kelapa tersebut dengan sistem rumahan. Meskipun diakuinya, pemurnian memang identik dengan pabrik-pabrik berskala besar, mahal, dan efisien. Maka dia pun berpikir bagaimana caranya agar rakyat kecil bisa melakukannya. Yakni dengan memegang prinsip kerja ala pabrik. “Prosesnya sama namun skalanya diturunkan. Prinsipnya sama dengan pabrik besar, tapi skalanya yang dikurangi karena budget-nya memang terkendala di situ,” jelasnya.
Di awal merintis usaha ini, kendala yang dialami adalah edukasi ke masyarakat. Sebab imaji minyak kelapa di masyarakat dikenal mahal. Sedangkan minyak yang lazim digunakan seperti berbahan sawit jauh lebih murah. Berada di kisaran Rp 14 ribu sampai Rp 17 ribu per liter. “Otomatis masyarakat melihat dari harganya saja sudah mikir kan, tapi sebenarnya dari segi manfaat justru lebih irit minyak kelapa. Itu yang saya edukasi,” ucap Surya.
Kendala lain adalah terkait bahan baku. Sebab semakin produksi meningkat, semakin membutuhkan banyak bahan. Sementara produsen minyak klentik sebagai bahan baku semakin menyusut.
Lain pula kendala peralatan yang dialaminya. Sebab ia merintis usahanya dari nol. Di mana awalnya hanya membuat minyak berkualitas rendah. Namun secara bertahap akhirnya bisa memproduksi minyak yang kualitasnya baik. “Bertahap untuk menaikkan kualitas, kalau sekarang saya anggap kualitasnya sudah prima, layak, dan ada di papan atas untuk minyak segar,” kata Surya.
Saat ini, bisnis yang dirintis Surya pun telah memiliki 80 agen di seluruh Indonesia. Bahkan ada agen dari Malaysia yang setiap satu bulan sekali mengambil minyak di tempatnya. “Dari awal memang orientasinya juga membangun brand karena itu kan yang diingat masyarakat. Jadi branding itu salah satu tujuannya,” ujar pria kelahiran 3 September 1993 ini.
Saat ini, frekuensi produksi minyak kelapa yang dilakukan rata-rata mencapai 250 liter per hari. Karena saat ini kondisi perekonomian nasional sedang kurang baik, maka produksi hanya dilakukan tiga kali seminggu. Kemasan Tropicoco sendiri saat ini ada tiga varian. Yakni ukuran kemasan satu liter, lima liter, dan yang satu lagi ukurannya by request oleh konsumen. “Selain konsumsi, minyak kelapa juga bisa digunakan sebagai bahan baku sabun, lalu sebagai bahan baku minyak urut,” jelas Surya.
Ke depan dirinya akan mengembangkan bisnisnya dengan membuat produk turunan dari minyak kelapa. Saat ini sedang berada di tahap memaksimalkan kuota di sisi hulu. Artinya menggandeng masyarakat untuk melestarikan minyak klentik.
“Mungkin tahun depan rencana bikin produk turunannya, yakni minyak urut. Karena itu yang paling laris di Indonesia. Kayaknya nggak ada orang Indonesia yang nggak nyimpen minyak urut di rumahnya,” tandasnya. (tyo/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita