Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Perjalanan Gama Melon Parfum, dari Produk Gagal Hingga Jadi Bahan Kosmetik

Editor News • Selasa, 10 Januari 2023 | 00:38 WIB
ALAMI : Salah satu inovasi Dekan Fakultas Biologi UGM Budi Setiadi Daryono yaitu Gama Melon Parfum saat ditunjukkan di Fakultas Biologi UGM, Senin (9/1). (ANNISSA KARIN/RADAR JOGJA)
ALAMI : Salah satu inovasi Dekan Fakultas Biologi UGM Budi Setiadi Daryono yaitu Gama Melon Parfum saat ditunjukkan di Fakultas Biologi UGM, Senin (9/1). (ANNISSA KARIN/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA – Dekan Fakultas Biologi UGM Budi Setiadi Daryono mengabdikan diri selama 25 tahun terakhir untuk fokus melakukan penelitian tentang melon. Selama itu, ada sebanyak 16 produk inovasi melon edible dan satu melon non-edible.

Satu produk melon non-edible itu adalah Gama Melon Parfum (GMP). Bentuknya bulat kecil dan ada tonjolan di bagian atasnya. GMP memiliki rasa yang pahit sehingga tidak enak untuk dikonsumsi. Ini merupakan hasil persilangan antara indukan NO3 dengan MR5.

Kultivar ini mempunyai karakter fenotip ukuran buah kecil, kulit buah berwarna hijau, dan terdapat ornament unik. Rasanya pahit, tetapi memiliki aroma yang sangat wangi.

Dalam satu tanaman dapat dikembangkan 4 hingga 10 buah sehingga dapat diperoleh buah dalam jumlah banyak. Berat perbuahnya antara 50 gram hingga 4 ons. Sementara untuk masa panen membutuhkan waktu sekitar 55 hingga 58 hari.

Budi menyebut, awalnya GMP diciptakan untuk bisa dimakan. Namun, karena ada kesalahan dalam menggabungkan formulasi sehingga menghasilkan rasa yang pahit. Tak mau berhenti disitu, Budi terus memutar otak untuk mencari cara agar GMP bisa dimanfaatkan.

“Kan biasa, riset itu kadang tidak seperti yang kita inginkan. Saya tanam kok pahit, berarti tidak bisa dimakan. Ini termasuk saya agak kecewa. Mengapa tidak seperti yang saya harapkan. Kemudian saya improve juga sama dagingnya tipis, tidak begitu enak,” jelas Budi ditemui di Fakultas Biologi UGM, Senin (9/1).

Seiring berjalannya waktu, Budi berhasil mengambil kesimpulan satu keunggulan GMP yaitu kemampuannya dalam mengusir nyamuk. Ini dibuktikan setiap dia membawa GMP saat mengunjungi lahan, tak ada nyamuk yang mendekat.

Lantas dia membuat GMP menjadi bahan obat nyamuk oles. GMP juga dimanfaatkan sebagai abate atau penghancur jentik nyamuk.

Namun, upaya Budi ini tak semulus yang dia harapkan. Dia sempat mandeg. Produk obat nyamuk oles dan abate besutannya tak mendapat perhatian yang cukup dari kalangan industri.

Hingga akhirnya dia bertemu dengan pelaku industri kosmetik. GMP akhirnya dimanfaatkan menjadi bahan pembuat sampo dan parfum. Mengingat GMP memiliki aroma harum yang kuat dengan sentuhan aroma buah. Ini juga sebagai bahan substitusi parfum yang menggunakan bahan sintetis dan cenderung tidak ramah lingkungan.

“Dia (industri) memberi challenge, saya jawab ‘why not’? Sampo ini di market place Rp 90 ribuan. Karena ini murni tanpa SLS, risetnya panjang dan laku kalau dieksport. Kalau di luar negeri sampo sudah tidak boleh pakai SLS,” katanya.

Budi menyebut produk sampo dan parfum berbahan GMP melewati proses yang panjang. Bahkan dia harus melalui eksperimen sebanyak 52 kali.

“Saat pandemi 300 orang saya kasih gratis untuk coba produk ini. Feedbacknya macam-macam. Casingnya ga bagus, ga layak, tapi ada juga yang positif. Kita terus perbaiki hingga menghasilkan produk yang layak jual,” ujarnya. (isa/dwi) Editor : Editor News
#Parfum melon #Fakultas Biologi UGM #Gama Melon Parfum #Budi Setiadi Daryono