Struktur tersebut terdiri dari batu berbentuk persegi yang tertata melingkar. Batu-batu juga terlihat berserakan dengan radius tak jauh dari formasi utama.
Pengelola Bukit Mintorogo, Prawoto Brewok menuturkan struktur bebatuan telah ada sejak dulu. Hanya saja warga tidak menganggap sebagai formasi stupa candi. Hingga akhirnya mencuat dugaan formasi batuan menyerupai stupa candi.
"Kemungkinan besar stupa candi, kalau lebih detailnya teman-teman arkeologi ya. Kalau saya kan tidak tahu pasti. Cuma memang menduga karena bentuknya mirip stupa. Dugaannya candi Budha," jelas Brewok ditemui di lokasi formasi bebatuan, Kamis (2/9).
Warga, lanjutnya, cenderung menganggap lokasi bebatuan sebagai tempat yang sakral. Terlebih adanya sejarah sebagai tempat bertapa. Dikuatkan dengan maraknya kunjungan warga luar dusun yang bertujuan ngalap berkah.
Brewok menuturkan warga lebih mengenal lokasi sebagai destinasi wisata religi. Kerap dikunjungi pada malam tertentu. Terutama oleh warga dari luar dusun Gayam.
"Penduduk sini menganggap itu adalah pertapaan Begawan Ciptoning. Jadi orang-orang sini menganggap daerah sakral. Selama ini banyak orang yang ke sini meminta apa," kata Pengelola Bukit Mintorogo, Prawoto Brewok.
Brewok tak mengetahui secara pasti tahun pembuatan. Hanya saja formasi batuan ini sudah ada sejak jaman kakek-neneknya. Kala itu formasi bebatuan justru lebih komplit.
Brewok dan timnya sempat melacak sebaran batu. Hasilnya ada jenis batu yang sama di sejumlah lokasi. Radiusnya tak jauh dari pusat tumpukan bebatuan di bukit Mintorogo.
Jenis bebatuan yang digunakan berbeda dengan candi pada umumnya. Berupa batu putih mirip dengan lokasi wisata Breksi. Sementara bebatuan candi lainnya menggunakan batu alam berwarna hitam.
"Minggu kemarin kami coba lacak ke sisi tebing di bawahnya. Di kedalaman 100 meter ke bawah itu hanya menemukan 1 batu. Sepertinya longsoran dari atas. Besok lacak lagi karena ada jejak di sana," ujar Pengelola Bukit Mintorogo, Prawoto Brewok.
BPCB DIJ, lanjutnya, belum lama ini sempat meneliti formasi bebatuan. Hanya saja Prawoto belum mengetahui secara pasti hasil dari penelitian. Termasuk upaya menjadikan sebagai cagar budaya.
"Kalau ditetapkan sebagai cagar budaya kami justru senang. Bisa jadi wisata religi. Secara tidak langsung membantu kesejahteraan warga ketika ada kunjungan," kata Prawoto Brewok. (dwi/sky) Editor : Editor News