Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kirab Ingkung Bendosari, Simbol Dongo Dinungo dan Pelestarian Sholawat Jawa

Agung Dwi Prakoso • Minggu, 21 September 2025 | 21:36 WIB

MERIAH : Tradisi sholawatan Jawa yang rutin diadakan setiap tahun untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Bendosari, Madurejo, Prambanan, Sleman, Minggu (21/9).
MERIAH : Tradisi sholawatan Jawa yang rutin diadakan setiap tahun untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Bendosari, Madurejo, Prambanan, Sleman, Minggu (21/9).
SLEMAN - Tradisi sholawatan Jawa yang rutin diadakan setiap tahun untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW kembali digelar di Bendosari, Madurejo, Prambanan, Sleman, Minggu (21/9).

Akulturasi budaya islam dan Jawa sangat kental terlihat dalam setiap rangkaian prosesi maupun pesan simbolik yang disematkan.

Acara tersebut berlangsung sejak pagi, dengan diawali pembacaan Sholawat Jawa oleh kelompok Sholawat Bendo Budoyo.

Masyarakat kompak mengenakan baju adat Jawa dan khitmat mengikuti pembacaan sholawat tersebut.

Pemuka agama Dusun Bendosari atau akrab disebut Mbah Kaum Wagiman mengatakan solawatan di Dusun Bendosari telah ada sejak zaman nenek moyang.

Dulu, perayaan tersebut sangat dinantikan oleh seluruh elemen masyarakat dan berbondong-bondong mendatanginya.

"Semakin kesini semakin berkurang, acara ini untuk mengembalikan gaung solawatan agar meriah seperti dulu," ujarnya saat ditemui di tengah acara, Minggu (21/9).

Keberadaan solawat Jawa saat ini relatif jarang ditemukan. Pembacaan sholawat nabi yang dikemas atau dilagukan dengan langgam jawa.

Alat musik yang digunakan pun merupakan perpaduan antara alat musik Timur Tengah dan Jawa. Mulai dari kendang, rebana dan juga alat musik lainnya.

Hal itulah yang menginisiasi Mbah Kaum untuk bertahan melestarikan budaya turun temurun khususnya di dusun tempat tinggalnya.

Ia berharap, naskah atau kitab sholawat yang selama ini ia pegang bisa diteruskan pada generasi muda.

"Ini sudah menjadi tradisi, jangan sampai hilang. Generasi muda supaya lebih mengenalnya," bebernya.

Ada prosesi yang menarik dalam rangkaian acara sholawatan di Bendosari yakni adanya kirab keliling kampung dengan membawa gunungan hasil alam, gunungan anak-anak serta uba rampe lainnya.

Yang paling khas adalah adanya ingkung yang dibawa oleh peserta kirab. Kirab itu diikuti oleh seluruh masyarakat dusun Bendosari.

Kepala Dusun Bendosari Sujarwoko menyampaikan dana acara tersebut sepenuhnya didapat dari swadaya masyarakat.

Tahun ini, ada sekitar 52 ingkung masakan ayam kampung utuh yang dikirabkan sebagai simbol syukur dan pemanjatan doa.

"Ingkung memiliki arti mengayomi dari kata jinangkung dan manekung yang artinya pemanjatan doa," ujarnya.

Ingkung tersebut dibawa oleh masing-masing warga. Nantinya, masyarakat akan bersama-sama memakan ingkung tersebut setelah acara selesai atau biasa disebut Kembul Bujana.

Selain sebagai simbol syukur, menurutnya, ingkung juga sebagai identitas dusun Bendosari.

"Bendosari dari jaman dulu terkenal perdagangannya, salah satu produk yang banyak dijual adalah olahan ayam (ingkung)," jelasnya.

Kirab yang mereka lakukan tak hanya sekadar tontonan. Namun ada nilai dan makna yang ingin disampaikan. Kepala dusun dan istrinya diarak oleh para peserta kirab menuju di kediaman para mantan dukuh.

Kemudian secara simbolis menyerahkan ayam ingkung kepada mantan dukuh (kepala dusun) yang pernah menjabat di Bendosari.

Makna dalam prosesi tersebut adalah bentuk ucapan terimakasih atas jasa setiap pemimpin.

Selain itu merupakan simbol 'dongo-dinungo' atau saling mendoakan antara generasi muda dengan generasi tua.

"Kita tidak boleh melupakan jasa-jasa para pendahulu, menghormatinya dan meneladani hal hal baiknya," tuturnya.

Acara ditutup dengan Kembul Bujana, total 52 ingkung beserta ambengan yang dibawa warga dilahap bersama-sama.

Ambengan merupakan nasi dan lauk pauk komplit yang dibawa oleh warga dalam setiap acara kenduri, khas pedesaan.

"Simbol kerukunan warga dengan makan bersama tanpa sekat," terangnya. (oso)

 

Editor : Bahana.
#Yogyakarta #Sleman #Sholawatan