UKDW Gandeng Pemkot Jogja, Dorong Konservasi Sungai Code, Winongo, dan Gajah Wong

Bahana. • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 11:10 WIB
Komitmen bersama menjaga sungai di Kota Jogja
Komitmen bersama menjaga sungai di Kota Jogja

RADAR JOGJA – Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) mendorong penguatan konservasi Sungai Code, Winongo, dan Gajah Wong melalui riset, inovasi, serta kolaborasi lintas sektor. Perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan dunia usaha diajak menyatukan hasil penelitian dengan kebijakan dan aksi nyata untuk memulihkan ekosistem sungai di Kota Yogyakarta.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Diskusi Konservasi Sungai Kota Yogyakarta di Ruang Seminar Pdt. Dr. Harun Hadiwijono UKDW, Kamis (8/10/2026). Kegiatan ini menghadirkan Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, akademisi, peneliti, serta perwakilan komunitas dan dunia usaha.

Diskusi tersebut menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-64 Duta Wacana yang mengusung tema Rooted in Faith, Sprouting in Innovation and Sustainability.

Baca Juga: Sempat Menyala Tengah Malam, Listrik di Batam Padam Lagi Pagi Ini

Rektor UKDW, Dr.-Ing. Wiyatiningsih, S.T., M.T., mengatakan persoalan sungai tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Karena itu, konservasi perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak sekadar berfokus pada pemulihan kondisi fisik sungai.

“Ketika kita berbicara tentang sungai, tidak hanya bicara tentang aliran air, tetapi juga bicara tentang kehidupan masyarakat, sosial, dan budaya di sekitarnya,” ujarnya.

Menurut Wiyatiningsih, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghasilkan pengetahuan dan inovasi untuk menjawab persoalan lingkungan. Kerja sama dengan pemerintah daerah, komunitas, dan dunia usaha diperlukan agar hasil penelitian dapat diterapkan secara berkelanjutan.

Sampah Rumah Tangga Jadi Perhatian

Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menekankan pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya untuk mengurangi pencemaran sungai. Pemerintah Kota Yogyakarta telah menjalankan sejumlah program, mulai dari gerakan Masyarakat Jogja Olah Sampah (Mas JOS), pembuatan biopori jumbo, hingga pengolahan sampah organik melalui emberisasi.

Pemkot juga menyediakan layanan Tim Reaksi Cepat Mas JOS untuk menangani sampah berukuran besar agar tidak dibuang ke sungai. Selain itu, pemasangan trash barrier atau penghalang sampah serta pelibatan satuan tugas sungai dilakukan untuk membantu memantau dan menangani persoalan di lapangan.

Baca Juga: Fakta Bentrok Pekerja Proyek dan Satpol PP di Bulungan: Bela Penjual Nasi atau Parkir Liar?

Hasto menilai penanganan sungai membutuhkan upaya lebih besar dibandingkan pengelolaan sampah di daratan. Karena itu, keterlibatan perguruan tinggi dan masyarakat, terutama generasi muda, menjadi bagian penting dari upaya konservasi.

“Sungai betul-betul menjadi focus of interest kita, karena menyelesaikan sungai itu lebih sulit daripada di darat. Maka kalau kita sukses membersihkan sungai, maka ini menjadi goal,” tuturnya.

Ia berharap perguruan tinggi dapat terlibat langsung di kawasan bantaran sungai dan mendampingi warga dalam menangani persoalan sampah serta menjaga kebersihan lingkungan.

Penelitian Lima Tahun Ungkap Pencemaran Sungai

Dari sisi akademik, dosen Fakultas Bioteknologi UKDW, Dr. Djoko Rahardjo, M.Kes., memaparkan hasil penelitian selama lima tahun mengenai pencemaran Sungai Code, Winongo, dan Gajah Wong.

Hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa pencemaran masih terjadi secara konsisten di ketiga sungai. Limbah rumah tangga menjadi salah satu sumber pencemaran yang perlu mendapat perhatian.

Djoko menegaskan, pemulihan sungai tidak cukup mengandalkan kegiatan pembersihan fisik. Perubahan perilaku masyarakat dan peningkatan pemahaman mengenai dampak aktivitas sehari-hari terhadap ekosistem sungai juga harus menjadi prioritas.

Baca Juga: Coventry City Bantai Newcastle 4-1, Akhiri Penantian 21 Tahun Menang di Kandang pada Premier League

Ia mengusulkan edukasi berbasis komunitas dan sekolah di kawasan bantaran sungai, pemantauan kualitas air yang melibatkan warga, pemulihan vegetasi di tepian sungai, serta pengelolaan air limbah dan sampah.

Langkah tersebut diharapkan dapat menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, upaya konservasi tidak berhenti pada rekomendasi akademik, tetapi berlanjut menjadi program yang dapat diterapkan dan dipantau bersama.

Diskusi Konservasi Sungai Kota Yogyakarta di Ruang Seminar Pdt. Dr. Harun Hadiwijono UKDW, Kamis (8/10/2026).
Diskusi Konservasi Sungai Kota Yogyakarta di Ruang Seminar Pdt. Dr. Harun Hadiwijono UKDW, Kamis (8/10/2026).

Sungai Perlu Dikelola dari Hulu hingga Hilir

Pentingnya kolaborasi juga disampaikan Chairman of Water Stewardship Indonesia, Fany Wedahuditama, M.Sc., M.A. Ia menekankan perlunya tata kelola bersama karena persoalan sungai di satu wilayah dapat berdampak pada wilayah lain, mulai dari hulu hingga hilir.

Dalam pendekatan tersebut, perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui penelitian dan pemantauan kualitas air. Pemerintah bertanggung jawab mengembangkan kebijakan serta mengintegrasikan program konservasi ke dalam perencanaan pembangunan.

Sementara itu, dunia usaha dan komunitas dapat mengambil bagian melalui praktik penggunaan air yang bertanggung jawab dan keterlibatan dalam pemantauan kondisi sungai.

Kolaborasi lintas sektor dinilai penting agar penanganan pencemaran tidak berjalan secara terpisah. Pengelolaan sungai perlu memperhitungkan keterkaitan antara kondisi lingkungan, aktivitas masyarakat, dan pembangunan kawasan perkotaan.

Kaprodi Pendidikan Profesi Arsitektur UKDW sekaligus Koordinator Konsorsium PTN-PTS Klaster Ruang Publik Kota Yogyakarta, Ir. Henry Feriadi, M.Sc., Ph.D., menambahkan bahwa sungai harus dipandang sebagai bagian dari ekosistem perkotaan.

Baca Juga: Pantauan Terbaru Merapi 13 Oktober 2026, Lava Gunung Merapi Mengarah ke Kali Sat

Sungai memiliki keterkaitan dengan kawasan hunian, ruang publik, serta kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, pengelolaannya perlu terintegrasi dengan penataan ruang dan pembangunan kota.

Henry juga mengusulkan pemanfaatan sungai sebagai living laboratory atau laboratorium hidup. Konsep tersebut memungkinkan sungai menjadi ruang pembelajaran, penelitian, inovasi, dan penerapan solusi lingkungan secara langsung.

Melalui pendekatan ini, mahasiswa dan dosen dapat bekerja bersama pemerintah, komunitas, serta dunia usaha untuk mengembangkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Piagam Amerta Bhumi Perkuat Komitmen Bersama

Sebagai bentuk komitmen, sejumlah perwakilan menandatangani Piagam Amerta Bhumi. Mereka antara lain Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo, Rektor UKDW Wiyatiningsih, Agus Supriyanto dari Forum Komunikasi DAS Gajahwong, Henry Feriadi, Deputy District Governor Rotary International D-3410 Indonesia Arsyita Rokhma, serta Fany Wedahuditama dari Water Stewardship Indonesia.

Piagam tersebut memuat komitmen untuk mengintegrasikan perlindungan sistem sosial-ekologis Sungai Code, Winongo, dan Gajah Wong sebagai kawasan penyangga Sumbu Filosofi Yogyakarta.

Baca Juga: Prediksi Skor Lens vs Sporting CP di Liga Champions, Tekad Les Sang Et Or dan Leoes Rebut Kemenangan

Kesepakatan ini diharapkan menjadi landasan bagi penguatan kerja sama lintas sektor dalam menjaga kelestarian sungai. Sinergi riset, kebijakan pemerintah, inovasi, dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk mewujudkan pengelolaan sungai yang berkelanjutan.

Melalui forum tersebut, UKDW menegaskan peran perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan penelitian, tetapi juga mendorong penerapan pengetahuan untuk menjawab persoalan lingkungan. Kolaborasi berbagai pihak diharapkan mampu menjaga kualitas ekosistem Sungai Code, Winongo, dan Gajah Wong sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat Kota Yogyakarta.

 

 

Editor : Bahana.
Konservasi Sungai sungai code UKDW sungai winongo Sungai Gajah Wong