Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Puluhan SD di Kota Magelang Krisis Murid, Regrouping Dinilai Bukan Solusi Efektif

Naila Nihayah • Sabtu, 19 Juli 2025 | 10:30 WIB

 

 

PENYESUAIAN: Mulai pekan depan, siswa TK-SMP negeri di Kota Magelang masuk sekolah pukul 06.30.
PENYESUAIAN: Mulai pekan depan, siswa TK-SMP negeri di Kota Magelang masuk sekolah pukul 06.30.

MAGELANG - Fenomena kekurangan murid menghantui sejumlah SD di Kota Magelang. Bahkan, ada sekolah yang hanya mampu menjaring empat siswa baru di tahun ajaran 2025/2026. Kendati begitu, regrouping sekolah bukan menjadi solusi yang efektif.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Magelang Imam Baihaqi menyebut, minimnya jumlah peserta didik membuat banyak SD tidak bisa memenuhi batas minimal rombongan belajar (rombel) sesuai ketentuan Permendikbud.

Padahal, secara regulasi, satu SD idealnya memiliki 6 hingga 24 rombel, dengan jumlah maksimal 28 siswa per rombel.

"Sejak tahun lalu sudah ada sekolah yang kekurangan siswa. Selain karena pertumbuhan penduduk yang lebih terkendali, kebijakan sistem domisili juga berpengaruh," paparnya di Gedung Wanita, Jumat (18/7).

Imam mengungkapkan, sistem domisili membuat orang tua lebih memilih sekolah yang dekat dengan rumah. Ditambah lagi, banyaknya pilihan sekolah, baik negeri maupun swasta, membuat persaingan semakin ketat.

Dia menegaskan, belum ada rencana untuk menutup sekolah-sekolah yang kekurangan siswa dalam waktu dekat. Imam menyebut, penutupan sekolah adalah opsi terakhir karena menyangkut hak layanan pendidikan bagi masyarakat.

Salah satu sekolah yang terdampak kekurangan siswa adalah SD Negeri Rejowinangun Utara 2. Kepala sekolah SD Negeri Rejowinangun Utara 2 M Eko Mulyono mengungkapkan, tahun ini sekolahnya hanya mendapatkan 10 siswa baru, jumlah yang sama dengan tahun lalu.

"Idealnya satu rombel bisa 28 siswa. Tapi realitanya, kami hanya dapat 10. Total seluruh siswa kami sekarang 73 orang, tahun kemarin cuma 56," ujar Eko di kantornya.

Lebih memprihatinkan lagi terjadi di SDN Rejowinangun Utara 3. Kepala sekolah Biatrik Ratna Milasari mengaku, selama dua tahun berturut-turut sekolahnya hanya mendapatkan empat siswa baru.

"Kami sudah lakukan banyak perubahan, dari yang dulu tidak ada ekstrakurikuler, sekarang kegiatan ditambah. Tapi hasilnya belum terlalu terasa," tutur Mila.

Dia menilai, ada banyak faktor penyebab sepinya peminat, mulai dari lokasi sekolah yang kurang strategis hingga persepsi negatif masyarakat sejak lama. Sebagian besar siswanya juga berasal dari kalangan kurang mampu.

"Ada stigma di masyarakat soal sekolah ini, kami tidak tahu asal-muasalnya, tapi dampaknya terasa sampai sekarang," bebernya.

Baca Juga: Dana Parpol Kota Magelang 2025 Capai Rp 603 Juta, Wali Kota: Harus Kembali untuk Rakyat 

Dia menyebut, siswa di SDN Rejowinangun Utara 3 saat ini hanya 52 orang. Mila mengaku, sempat bertanya kepada disdikbud terkait kemungkinan penggabungan sekolah atau bahkan penutupan.

Jawaban dinas jelas, lanjut Mila, menutup sekolah itu tidak gampang. "Kami berusaha semaksimal mungkin, alhamdulillah masih dapat BOS Kinerja karena masuk kategori sekolah baik," ujar dia. (aya/pra)

Editor : Heru Pratomo
#regrouping sekolah #rejowinangun utara #Bukan Solusi #imam baehaqi #Disdikbud #Empat siswa #Kota Magelang #BOS