Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Air Tenang Menghanyutkan, Ini Saran Pakar UGM jika Jadi Korban Rip Current di Laut

Gunawan RaJa • Kamis, 30 Januari 2025 | 07:00 WIB

BEGINI CARANYA: UGM dari Program Studi Sarjana Terapan Sistem Informasi Geografis Departemen Teknologi Kebumian Sekolah Vokasi saat meneliti tipe rip current di Pantai Selatan.
BEGINI CARANYA: UGM dari Program Studi Sarjana Terapan Sistem Informasi Geografis Departemen Teknologi Kebumian Sekolah Vokasi saat meneliti tipe rip current di Pantai Selatan.


SLEMAN - Ada saran untuk mengantisipasi rip current alias arus balik laut. Sekilas, airnya tampak tenang, tapi bisa tiba-tiba menyeret siapa saja ke tengah laut dalam hitungan detik.

Menurut Hendy Fatchurohman dari Department of Earth Technology Universitas Gadjah Mada (UGM), kesalahan terbesar korban rip current adalah panik dan berusaha berenang langsung ke pantai. Itu yang membuat korban cepat capek dan akhirnya tenggelam. Yang benar, berenanglah ke samping untuk keluar dari jalur arus atau biarkan diri terbawa hingga arus melemah, baru berenang kembali ke tepian. “Paling penting, kalau nggak bisa berenang, jangan nekat main ke tengah," tegasnya pada Rabu (29/1).

Dia menambahkan, rip current tidak ada di semua pantai, tapi kalau kondisi mendukung ombak besar dan dasar lautnya cocok arus ini bisa muncul kapan saja. “Rip current itu arus balik yang mengalir deras ke laut lewat saluran sempit," kata Hendy Fatchurohman.

Biasanya terbentuk saat ombak menciptakan feeder current atau arus umpan yang terakumulasi di satu titik dan langsung meluncur ke tengah. Salah satu ciri khas rip current adalah area air yang tampak lebih tenang dibanding sekitarnya. Tidak ada buih, tak ada ombak besar yang pecah, kelihatannya aman, padahal di situlah arus kuat bekerja. "Makanya, kalau main di pantai, selalu perhatikan rambu-rambu dan dengarkan imbauan petugas," ujarnya.

Menurutnya, cuaca ekstrem yang makin sering terjadi diduga bisa memicu rip current. Sayangnya, belum banyak penelitian yang mengaitkan langsung perubahan iklim dengan fenomena ini.“Data soal jumlah kejadian dan trennya juga masih minim,” ungkapnya.

Baca Juga: Pasangan Kumpul Kebo di Purworejo Bersekongkol Lakukan Pencurian di Delapan Lokasi, Terancam Hukuman Tujuh Tahun Penjara

Yang lebih miris, perhatian terhadap rip current biasanya baru muncul kalau sudah ada korban. Padahal, mitigasi bisa dilakukan lebih awal dengan pemasangan rambu yang jelas, edukasi wisatawan, dan kesiapan tim SAR. “Personel SAR di lapangan sudah berusaha maksimal, tapi jumlahnya terbatas, apalagi saat musim liburan ketika pantai penuh sesak,” terangnya.

Jadi, kata Hendy, sudah saatnya semua pihak serius menangani bahaya rip current. Jangan sampai pantai yang harusnya jadi tempat bersenang-senang justru berubah jadi lokasi tragedi. (gun/pra)

 
Editor : Heru Pratomo
#UGM #berenang #rip current #ombak #panik #arus balik