BANTUL - SD Negeri Banyuripan, Bantul menggelar pawai budaya dalam rangka peringatan Hari Anak Nasional.
Pawai dimulai dari SDN Banyuripan mengitari jalan sekitarnya kurang dari dua kilometer hingga kembali ke sekolah lagi.
Para siswa tampak antusias mengikuti pawai budaya dengan mengenakan pakaian adat Jawa.
Di antara siswa ada yang juga menabuh gamelan dengan beriringan.
Terdapat satu gunungan juga dalam iringan pawai rombongan siswa SDN Banyuripan ini.
Kepala Sekolah SDN Banyuripan Hery Purnomo mengungkapkan, pawai budaya ini baru pertama kalinya digelar sekolahnya kali ini.
Kegiatannya diikuti oleh siswa dari kelas 1 sampai 6 sekitar 114 anak.
Menurutnya bukan berarti menolak penggunaan gawai tetapi paling tidak meminimalisasi agar meningkatkan sosial masyarakatnya anak-anak.
"Tidak individualis kami kembangkan sifat sosial yang lebih tinggi," bebernya, Jumat (26/7/2024).
Tidak hanya siswa, guru juga mengenakan pakaian yang unik-unik.
Tujuan pawai untuk menanamkan pendidikan karakter berbudaya terhadap para siswa.
Diharapkan agar dapat mengenal budaya identitasnya sehingga terus melestarikannya.
Selain ada pawai budaya, SDN Banyuripan juga menggelar bazar budaya serta permainan tradisional seperti gobak sodor, egrang, bas-basan.
Permainan tradisional dihadirkan agar anak-anak memiliki aktivitas fisik.
Digelarnya permainan tradisional juga sebagai upaya melestarikan karena mulai tergeser dengan gawai.
Tidak dipungkiri anak-anak sekarang lebih tertarik bermain gawai dibanding gobak sodor.
"Harapannya ketika anak-anak terjun sebagai subjek bukan objek pasti lebih mengena," ujarnya.
Sementara itu, Ibu Wakil Bupati Bantul Dwi Pudyaningsih berharap, kegiatan semacam ini siswa SDN Banyuripan yang kelak tumbuh dewasa dapat melestarikan kebudayaan.
Selain itu, ini sangat bermanfaat karena sudah menanamkan karakter yang berbudaya sejak dini. Tentu dapat menjadi modal untuk anak-anak nantinya meraih cita-cita ketika dewasa.
"Harapannya anak-anak ini tumbuh menjadi sosok yang cerdas, berkualitas, dan berjiwa Indonesia," tuturnya.
Perempuan yang juga istri dari Wakil Bupati Bantul Joko Purnomo itu mengungkapkan, penggunaan kurikulum merdeka di sekolah sehingga guru menanamkan pembelajaran yang menyenangkan.
Kendati begitu tidak mengurangi makna dari pendidikan itu sendiri. (rul)
Editor : Meitika Candra Lantiva