UAD bekerjasama dengan IKIP PGRI Pontianak melakukan observasi dan pengambilan data astronomi Gerhana Matahari Sebagian, Minggu (21/6). Yudhi mengatakan, tidak semua daerah di Indonesia dilewati oleh jalur gerhana. Daerah yang dilewati jalur Gerhana Matahari Sebagian di antaranya Sumatera kecuali sebagian Bengkulu dan Lampung, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Bali dan Nusa Tenggara, Indramayu di Jabar, Jatim dan sebagian Jateng. DIJ dan DKI Jakarta tidak dilewati jalur Gerhana Matahari Sebagian.
"Piringan matahari tertutup sekitar 40%, terlihat di Maluku Utara. Selama dua jam, Gerhana Matahari Sebagian berlangsung di tempat tersebut. Puncak Gerhana Matahari Sebagian di Pulau Morotai, Maluku Utara berlangsung mendekati senja yaitu terjadi pada pukul 17.34 WIT. Hal ini mengakibatkan sulitnya observasi karena ketinggian Matahari sudah rendah," jelas Yudhi dalam keterangan tertulisnya.
Fenomena Gerhana Matahari, lanjut Yudhi, tidak terjadi setiap bulan, namun selalu terjadi setiap fase bulan baru. Hal ini disebabkan bidang revolusi Bulan yang mengelilingi Bumi mempunyai kemiringan sekitar 5 derajat terhadap bidang revolusi Bumi mengelilingi Matahari.
Gerhana Matahari kali ini juga bertepatan dengan fenomena Summer Solstice atau deklinasi Matahari bernilai 23,5 derajat. Artinya, Matahari berada di Titik Balik Utara. Secara astronomi, inilah dimulainya awal musim panas di Belahan Bumi Utara. Panjang siang hari akan lebih lama daripada panjang malam hari.
"Bila kita mengamati arah Matahari terbit dan terbenam, maka cenderung berada di sisi paling utara sehingga Matahari tidak tepat terbit di arah timur dan terbenam tidak tepat di arah barat. Setiap harinya akan bergeser posisinya," ungkap Yudhi.
Para pemburu gerhana yang saling berlomba memotret dan mengambil data penelitian tak ingin melewatkan fenomena ini. Namun, hal ini sulit dilakukan di masa pandemi Covid-19. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pengamatan secara berkerumun. Oleh karena itu pengamatan dilakukan dengan jumlah orang yang terbatas di kediaman masing-masing. Menggunakan peralatan proyeksi lubang jarum. Ilmuwan muslim Ibnu Al-Haytham yang mengenalkan metode proyeksi lubang jarum ini. Yudhi memaparkan cara kerjanya.
Cahaya matahari akan melewati celah atau lubang kecil dari kertas atau alumunium foil yang ditembus dengan jarum. Alumunium foil yang sudah berlubang tadi diarahkan ke arah matahari.
“Sehingga citra matahari akan tercetak di layar yang berada di bawah atau sisi yang berseberangan dengan Alumunium foil. Kertas atau kain bisa digunakan sebagai layar. Metode ini relatif murah, mudah, dan aman dilakukan oleh masyarakat untuk mengamati gerhana," jelas Yudhi.
Selain dengan metode proyeksi lubang jarum yang murah, masyarakat juga dapat menyimak secara daring detik-detik terjadinya gerhana yang diamati dengan teleskop oleh sejumlah observatorium. Para peneliti pun menggunakan jejaring observatorium untuk mendapatkan data ilmiah perihal Gerhana Matahari Sebagian ini. Peneliti di Observatorium UAD juga menyebar pengamat di berbagai daerah di Indonesia.
“Streaming keadaan pada saat Gerhana Matahari Sebagian di sejumlah daerah juga dilakukan melalui kanal media sosial. Belajar dari rumah dengan mengamati Gerhana Matahari Sebagian ini dilakukan untuk menekan laju pertambahan kasus positif Covid-19 dan semoga wabah ini segera berakhir sehingga kita bisa melakukan pengamatan bersama di observatorium," tandas Yudhi. (sky/tif) Editor : Editor News