Ketika teknologi ada di mana-mana, Baduy tetap memilih sederhana. Begini cara masyarakat adat di Lebak, Banten, menjaga tradisi leluhur.
LEBAK – Ketika telepon genggam, internet, dan berbagai perangkat elektronik telah menjadi bagian dari keseharian, ada masyarakat yang justru memilih berjalan dengan ritme yang berbeda. Di Kabupaten Lebak, Banten, masyarakat Baduy masih mempertahankan kehidupan sederhana yang berakar kuat pada aturan leluhur.
Bagi masyarakat Baduy, kesederhanaan bukan sekadar gaya hidup. Adat menjadi pedoman yang menentukan bagaimana mereka menjalani kehidupan, berhubungan dengan sesama, sekaligus memperlakukan alam di sekitarnya.
Kehidupan tersebut membuat masyarakat Baduy memiliki daya tarik tersendiri. Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, mereka tetap berusaha menjaga warisan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Baca Juga: Pertalite Bakal Dibatasi? Pemerintah Ungkap Kelompok Desil 9-10 yang Berpotensi Tak Lagi Disubsidi
Baduy Dalam dan Baduy Luar
Secara umum, masyarakat Baduy terbagi menjadi dua kelompok utama, yakni Baduy Dalam dan Baduy Luar. Keduanya sama-sama memegang adat, tetapi memiliki tingkat keterbukaan yang berbeda terhadap dunia luar.
Baduy Dalam dikenal lebih ketat dalam menjalankan berbagai ketentuan adat. Kehidupan mereka relatif jauh dari penggunaan teknologi modern dan perangkat elektronik yang kini lazim digunakan masyarakat perkotaan.
Sementara itu, masyarakat Baduy Luar memiliki interaksi yang lebih terbuka dengan masyarakat dari luar wilayah adat. Perbedaan tersebut membuat pola kehidupan keduanya tidak sepenuhnya sama, terutama dalam menghadapi perkembangan teknologi dan aktivitas dari luar.
Baca Juga: Bukan Sekadar Atraksi Mengerikan, Ini Sejarah dan Makna Debus Banten yang Sarat Nilai Budaya
Namun, perbedaan itu tidak menghapus akar budaya yang menjadi identitas masyarakat Baduy.
Rumah Sederhana, Dekat dengan Alam
Kesederhanaan dapat terlihat dari lingkungan tempat mereka tinggal. Rumah-rumah masyarakat Baduy dibangun dengan memanfaatkan material alami, seperti bambu dan kayu.
Berbagai aktivitas sehari-hari juga masih banyak dilakukan secara manual. Kehidupan mereka memiliki hubungan erat dengan alam dan pertanian. Apa yang tersedia di lingkungan sekitar dimanfaatkan untuk menopang kebutuhan hidup.
Baca Juga: Persoalan Harga Telur Dituding gegara MBG, Peternak di Kebumen Tambah Populasi Ayam
Bagi masyarakat Baduy, alam bukan sekadar sumber daya yang dapat digunakan. Lingkungan merupakan bagian penting dari kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya.
Pandangan tersebut membuat aturan adat memiliki peran besar. Ketentuan leluhur menjadi semacam kompas yang mengarahkan masyarakat dalam menjalani kehidupan.
Tradisi yang Bertahan di Tengah Perubahan
Kehidupan masyarakat Baduy memberikan gambaran bahwa kemajuan zaman tidak selalu berarti semua tradisi harus ditinggalkan.
Baca Juga: TMMD Umbulrejo Rampung, Rp 300 Juta Tuntaskan Seluruh Sasaran di Ponjong, Gunungkidul
Ketika banyak masyarakat berlomba mengikuti perkembangan teknologi, masyarakat Baduy justru menunjukkan pilihan hidup yang berbeda. Mereka mempertahankan nilai-nilai leluhur dan menjadikan adat sebagai bagian dari keseharian.
Pilihan tersebut bukan berarti masyarakat Baduy tidak mengenal perubahan. Baduy Luar, misalnya, memiliki ruang interaksi yang lebih luas dengan masyarakat luar.
Namun, di tengah arus perubahan tersebut, identitas adat tetap menjadi sesuatu yang penting untuk dijaga.
Dari kawasan adat di Lebak, Banten, masyarakat Baduy seperti mengingatkan bahwa kemajuan bukan satu-satunya ukuran kehidupan. Ada pula nilai tentang kesederhanaan, keseimbangan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam.
Baca Juga: TMMD Sengkuyung Tahap III Tuntas Infrastruktur Dibangun, Warga Secang Diminta Merawat dengan Baik
Mungkin justru karena itulah kehidupan masyarakat Baduy terus menarik perhatian. Saat dunia bergerak semakin cepat, mereka tetap menjaga langkah agar tidak kehilangan jejak leluhur.
Editor : Iwa Ikhwanudin
Sumber : Berbagai Sumber