RADAR JOGJA– Di tengah gelombang unjuk rasa yang meluas di berbagai daerah, sebuah fenomena tak biasa terjadi.
Sejumlah pengguna media sosial melaporkan bahwa siaran langsung (live) TikTok yang meliput jalannya demo tiba-tiba dihapus atau dihentikan secara sepihak.
Insiden ini memicu spekulasi dan kemarahan publik, yang menilai ada upaya sistematis untuk membungkam suara rakyat.
TikTok, yang menjadi salah satu platform andalan para demonstran dan jurnalis warga untuk menyiarkan kejadian secara real-time, tiba-tiba menjadi "sepi" di beberapa titik demo.
Banyak pengguna yang mengeluh bahwa akun mereka tidak bisa melakukan siaran langsung atau siaran yang sudah berlangsung mendadak terputus.
Hilangnya fitur TikTok Live secara mendadak di Indonesia menimbulkan kebingungan dan keluhan sejumlah pengguna.
Sejumlah aktivis dan pengamat media sosial menduga insiden ini adalah bagian dari upaya sensor.
Mereka menuduh ada tekanan dari pihak tertentu kepada platform media sosial untuk membatasi penyebaran informasi terkait demo.
Pengumuman Resmi
"Sehubungan dengan meningkatnya kekerasan dalam aksi unjuk rasa di Indonesia, kami mengambil langkah-langkah pengamanan tambahan untuk menjaga TikTok tetap menjadi ruang yang aman dan beradab. Sebagai bagian dari langkah ini, ia menambahkan, perusahaan secara sukarela menangguhkan fitur TikTok Live selama beberapa hari ke depan di Indonesia,” ucap juru bicara TikTok.
"Ini jelas bentuk sensor. Mereka takut kebenaran terungkap. Suara rakyat mencoba dibungkam," ujar salah satu aktivis yang ikut dalam unjuk rasa.
“Gue yg host live sedih bgt, gue kalo gk kerja gmn mau makan. Gmn bayar ko, gmn kasih mama, gmn kasih adek gue, gmn nabung, gmn bayar cicilan rumah. Ya allah tolong,” ujar akun @bby.zwetta.
“Bner.. host live jualan online kena dampak,” ujar akun @siezka_seokjin.
Meskipun begitu, kejadian ini sekali lagi menyoroti peran sentral media sosial dalam menyiarkan peristiwa penting, terutama saat media arus utama dianggap tidak bisa meliput secara maksimal dan UMKM atau para penjual online ikut dena dampaknya.
Namun, di saat yang sama, hal ini juga menunjukkan betapa rentannya kebebasan berekspresi di ruang digital. (Chintya Maharani)