RADAR JOGJA – Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza, turut menjadi sasaran empuk dari serangan Israel.
Pada peperangan antara Israel dan Hamas sejak 7 Oktober lalu, RS Indonesia menjadi salah satu rumah sakit yang digunakan untuk penyelamatan warga Palestina.
RS Indonesia turut menjadi sasaran Israel karena dituding menjadi tempat menyembunyikan benteng bawah tanah milik pasukan Hamas.
Tudingan tersebut berasal dari juru bicara militer Israel, Laksamana Muda Daniel Hagari.
Hagari menungkap, bahwa RS Indonesia dibangun Hamas untuk menyamarkan infrastruktur teror bawah tanahnya.
Namun tuduhan tersebut dibantah dengan tegas oleh pemerintahan Indonesia melalui kementerian luar negeri.
Lantas, bagaimana awal mula berdirinya RS Indonesia di jalur Gaza yang turut menjadi tempat untuk penyelamatan warga Palestina selama peperangan antara Israel dan Hamas sejak 7 Oktober lalu?
Awal Mula RS Indonesia di jalur Gaza
Dilansir dari liputan6.com, saat itu mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah yang menjabat pada tahun 2004-2009, melakukan pertemuan dengan menteri-menteri kesehatan dari berbagai negara, salah satunya Menteri Kesehatan Palestina.
Pada saat pertemuan itu, Mantan Menkes Siti Fadilah mendapat tawaran dari Menkes Palestina, yaitu bisa tidak Indonesia membuat rumah sakit di Gaza, jika kami memberikan tanah kepada Indonesia di tanah Gaza.
Tawaran itu di terima oleh Mantan Menkes Siti Fadilah.
Setelah pertemuan tersebut, Mantan Menkes Siti Fadilah langsung menghubungi rekan dokternya yaitu Dr. Joserizal Jurnalis, SpOT. Beliau adalah pendiri Medical Emergency Rescue Committee (MER-C).
Dr. Joserizal menyambut dengan antusias tawaran tersebut.
Siti Fadilah mengungkapkan bahwa membangun rumah sakit di Gaza merupakan impian dari Dr. Joserizal.
Langkah pertama, Dr. Joserizal mencari dana dari rakyat Indonesia.
Waktu itu, sebenarnya pernah mendapat tawaran dana dari Iran.
Akan tetapi Indonesia menolak karena rumah sakit tersebut dari Indonesia, sehingga harus menggunakan uang Indonesia.
Dana akhirnya terkumpul. Dana berasal dari sumbangan-sumbangan masyarakat Islam Indonesia dari berbagai acara pengajian.
Juga berasal dari berbagai donatur yang menyumbangkan dalam nominal besar. Total dana yang didapatkan adalah 126 milliar rupiah.
Perancangan desain rumah sakit, Siti Fadilah percayakan kepada Presidium MER-C, Faried THalib. Pembangunan di mulai pada Mei 2011.
Sebelum memulai pembangunan, tim MER-C melakukan pertemuan dengan Menkes Palestina untuk mengutarakan keinginan pembangunan rumah sakit di Gaza tersebut.
Rencana pembangunan tersebut disambut baik oleh Palestina.
Setelah itu, mereka melakukan penandatanganan nota kesepahaman atau MoU yang berisi terkait pembangunan rumah sakit yang dibiayai dari donasi rakyat Indonesia untuk Palestina.
Dari pihak Indonesia diwakilkan oleh Dr. Joserizal Jurnalis, SpOT dari MER-C, dan dari pihak Palestina diwakilkan oleh Kemenkes Palestina, Bassim Naim.
Akan tetapi, pada saat akan mulai pembangunan, Dr. Joserizal kebingungan dimana ia bisa mendapatkan tukang batu yang mau dibayar berapa saja dan yang mau untuk bekerja di tempat medan perang.
Kemudian, Dr. Joserizal bertemu dengan Pondok Pesantren Al-Fatah yang dipimpin oleh Pak Yakhsyallah. Dr. Joserizal menceritakan permasalahan tersebut.
Secara tak terduga, ternyata banyak mujahid (orang yang berjuang membela agama) yang bersedia untuk menjadi relawan pembangunan RS Indonesia tersebut. Mereka diantaranya yaitu guru, dosen, sarjana, dan lain-lain.
Mereka yang mendaftar bukanlah ahli tukang batu, sehingga mereka perlu menjalani pelatihan sebagai tukang batu terlebih dahulu.
RS Indonesia di Gaza akhirnya berhasil dibangun dengan bantuan para mujahid. Mereka (mujahid) adalah orang-orang yang ikhlas dan ingin beribadah kepada Allah.
RS Indonesia selesai dibangun pada Februari 2015. Mempunyai 4 lantai dan 1 lantai untuk basement. Bangunan ini mempunyai luas 12.676 meter persegi di atas tanah wakaf yang memiliki luas 16.261 meter persegi.
RS Indonesia mempunyai bangunan hingga 2 tingkat. Sebenarnya RS Indonesia berencana untuk menambah 1 tingkat lagi.
Akan tetapi, perang antara Israel dan Hamas terjadi terlebih dahulu.
RS Indonesia diresmikan oleh mantan Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla pada Desember 2017. RS Indonesia ini berada di Bait Lahiya, Kegubernuran Gaza Utara, jalur Gaza, Palestina.
(Anistigfar/Radar Jogja)
Baca Juga: Tahun Depan 1.665 Jiwa di Bantul Dapat Jaminan Hidup Lansia Pra Sejahtera