Sensasi garing dan gurih menjadikan menu ini berbeda dari olahan telur goreng lainnya. Tak heran, telur gobal-gabul menjadi sangat digemari oleh para pembeli. Saking ramainya, antrian bahkan mengular sejak pagi hingga jam makan siang.
Darmadi, salah satu pengelola Warung Pojok Mbak Yuni mengatakan dalam sehari pihaknya mampu menghabiskan sebanyak tiga hingga empat krat telur. Jika dijumlah, setidaknya 45 kilogram telur ayam ludes dalam satu hari.
"Di sini menjual berbagai olahan masakan rumahan. Jadi warung kami cocok untuk yang kangen masakan rumah. Di sini menu favoritnya telur gobal-gabul atau telur krispi. Biasanya sehari bisa habis 3 kotak atau 4 kotak," jelasnya saat ditemui di Warung Pojok Mbak Yuni di Jalan I Dewa Nyoman Oka No. 3, Kotabaru, Gondokusuman, Kota Jogja, Selasa (13/9).
Selain telur gobal-gabul adapula berbagai macam olahan lainnya. Seperti oseng sayur, ayam goreng, ikan, dan gorengan. Kebanyakan, pembeli datang dari luar kota seperti wisatawan dan mahasiswa. Juga para pegawai kantor di sekitaran Kotabaru.
"Kami buka setiap hari mulai jam 06.30 pagi. Biasanya jam 14.00 sudah habis," katanya.
Yohana, salah satu pembeli asal Tangerang mengaku baru pertama kali mampir untuk makan di Warung Pojok Mbak Yuni. Dia mengatakan teringat masakan sang ibu di rumah saat menyantap telur gobal-gabul.
Namun, beberapa menu menurutnya terasa terlalu pedas. Ini tentu kurang terlalu cocok baginya. Apalagi memang tidak terlalu suka pedas.
"Baru kali ini dan ke sini gara-gara viral. Aku tadi pesan sayur buncis sama telur pakai sambal. Saya kebetulan suka makanan rumahan, ngobatin rasa kangen juga sama masakan di rumah," ujarnya. (isa/dwi) Editor : Editor News