JOGJA - Tren menjamurnya self photo studio disebut bukan hanya sekadar gaya hidup. Namun jadi ruang bermain baru bagi generasi muda. Khususnya untuk mengekspresikan diri dengan lebih bebas dan nyaman.
“Kalau motret sendiri lebih bebas. Ekspresi bisa lepas, kadang kalau ada fotografer justru malah canggung,” ujar Novan Jemmi Andrea, dosen Program Studi Fotografi, Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta Rabu (4/5).
Menurut Novan, self foto studio bukanlah hal yang baru. Awalnya populer dengan istilah photobox. Hanya saja, kini dibuat dengan tampilan lebih modern. Serta setting studio yang lebih proper, dan peralatan profesional.
Selain itu, self foto studio itu jadi pengalaman yang unik. Karena sambil pose, pengguna bisa langsung melihat hasilnya.
Fenomena ini tidak hanya menghadirkan kesenangan. Tapi juga menimbulkan pertanyaan tentang peran fotografer ke depan. Sebab, studio jenis ini tidak lagi membutuhkan fotografer secara langsung.
“Dulu fotografer yang memotret, sekarang cukup mesin dan teknologi," jelasnya.
Namun, kehadiran self photo studio belum berdampak krusial bagi profesi fotografer. Sebab fotografer masih bisa menawarkan produk foto lain. Seperti foto pernikahan di tempat terbuka.
Namun, Novan ikut menyoroti potensi penurunan kualitas fotografi dalam konteks artistik. “Kalau self photo, asal terang dan fokus sudah dianggap bagus,” sebutnya.
Padahal, lanjut Novan, yang sering terabaikan adalah dimensi artistik. “Tidak ada yang kasih arahan seperti coba pindah posisi, biar lebih berdimensi,” bebernya.
(cr2/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita