Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Wedang Ereng-Ereng, dari Pundong, Bantul, Mirip Wedang Uwuh, Lahir dari Luka dan Kesetiaan

Rizky Wahyu Arya Hutama • Minggu, 29 Maret 2026 | 18:12 WIB
Pencipta Wedang Ereng-ereng Jemi Kanas dan istrinya saat meracik Wedang Ererng-ereng. (Rizky Wahyu/Radar Jogja)
Pencipta Wedang Ereng-ereng Jemi Kanas dan istrinya saat meracik Wedang Ererng-ereng. (Rizky Wahyu/Radar Jogja)

BANTUL - Yogyakarta tak hanya dikenal dengan keindahan alam dan kekayaan budayanya. Tetapi juga dengan produk kuliner sehat khas daerah, salah satunya Wedang Ereng-Ereng. 

Wedang Ereng-ereng merupakan salah satu minuman rempah yang mirip seperti wedang uwuh. Akan tetapi, di balik hangatnya seduhan rempah yang beradu dengan manisnya sari buah, tersimpan sebuah cerita tentang keteguhan hati yang sempat berdarah-darah. 

Pencipta Wedang Ereng-ereng Jemi Kanas menjelaskan minuman yang diciptakannya ini sebenarnya bukan sekadar minuman penghangat tubuh saja. Tapi ramuan ini memiliki sejarah dan perjalanan panjang bagi empunya. 

"Ereng-ereng itu artinya lereng. Karena warung saya dulu memang berada di perbukitan," jelasnya, Minggu (29/3/2026).

Jemi menceritakan, pada akhir 2010 silam, setelah memutuskan berhenti merantau, ia pulang ke tanah kelahiran, yakni di Dusun Ngerco, Seloharjo, Pundong, Bantul, Yogyakarta. Kepulangannya itu pun juga bukan tanpa alasan. Pada saat itu, Jemi datang dengan harapan besar untukmembangun ekonomi dari desa.

Baca Juga: Wah, Longsor Susulan di Tanjakan Clongop Terjadi Tiga Kali dalam Sepekan: Didominasi Tanah Tua

Alhasil, dari harapan tersebut lantas Jemi dipertemukan oleh Irsyam Sigit Wibowo, seorang tokoh di balik kesuksesan HS Silver Kotagede. Saat itu, mereka berdua bertemu di Objek Wisata Goa Jepang yang berada di Pundong, Bantul.

Dari pertemuan itu, lanjut Jemi, bukan modal uang yang diberikan oleh Irsyam, melainkan sedekah ilmu. Kala itu Jemi didampingi untuk melihat potensi wisata di desanya sendiri. Ia diajak berkeliling, belajar dari Kopi Suroloyo hingga Kopi Merapi, hanya untuk memahami satu hal, yaitu bagaimana mengemas potensi lokal menjadi daya tarik.

"Awalnya saya kurang yakin karena tidak punya modal finansial. Tapi Pak Irsyam selalu bilang, mulai saja dulu agar masyarakat bisa melihat contohnya," cetusnya. 

Setelah memantapkan diri, akhirnya Jemi memutuskan untuk mendirikan sebuah warung di tahun 2016. Warung itu diberi nama Warung Ereng-Ereng. Menu andalannya pun minuman segar berbahan rempah-rempah asli Indonesia.

Menurut Jemi, warung yang didirikannya itu sebenarnya dulu sempat menjadi primadona. Nama-nama besar seperti budayawan Butet Kartaredjasa hingga maestro lukis (Alm) Djoko Pekik dan musisi terkenal Djaduk Ferianto pun pernah menyesap kehangatan di sana.

Baca Juga: Warga Kota Jogja Menilai Satu Tahun Kepemimpinan Hasto Wardoyo dan Wawan Harmawan, Memperbaiki Rumah, Memberdayakan Ekonomi Rakyat

Namun perjuangan Jemi pun hanya berjalan dua tahun saja. Pada 2018 silam, cobaan datang menghampirinya. Sang ayah jatuh sakit dan harus keluar-masuk rumah sakit selama dua bulan. Sehingga, fokus Jemi menjadi terbelah dan warung yang ia rintis dengan darah dan air mata itu terpaksa tutup.

​"Saya sedih sekali. Ibarat perang, saya sudah babak belur, tapi saya ingin bendera Ereng-Ereng tetap berkibar," tuturnya. 

Akan tetapi, tutupnya warung yang dirintis itu tak membuat semangat Jemi menurun. Dengan bermodalkan alat yang ada, ia melakukan riset mandiri selama dua tahun untuk mengubah wedang segar menjadi kemasan kering agar bisa dinikmati kapan saja. 

Setelah itu, Jemi mencoba untuk memotong buah, mengovennya, hingga mencatat tanggal kedaluwarsa secara manual. Alhasil terciptanya Wedang Ereng-ereng, yakni minuman perpaduan rempah dan sari buah. 

Selain berbahan baku dari jahe, serai, kapulaga, kayu manis, dan daun pandan yang dikeringkan selama dua kali melalui sinar matahari dan oven. Wedang Ereng-ereng ini memiliki dua varian utama, yakni pisang raja dan jeruk nipis. 

Baca Juga: Link Live Streaming PSIS Semarang vs Persipal Palu, Laskar Mahesa Jenar Ingin Keluar dari Zona Degradasi

​"Bedanya dengan wedang rempah lain adalah tambahan sari buahnya. Ini yang membuatnya otentik," ungkapnya.

Jemi menjelaskan, selepas penciptaan Wedang Ereng-ereng selesai, ia mencoba menghibahkan minumannya itu ke pihak Kalurahan untuk jadi produk khas unggulan desa. Akan tetapi hingga saat ini, pihak Kalurahan pun belum merespons niat baiknya.

​Jemi tak berkecil hati. Alih-alih marah, ia justru memilih untuk menjadikan Wedang Ereng-ereng menjadi usaha mandiri. Alhasil saat ini produknya telah mengantongi izin P-IRT, sertifikasi halal, hingga paten merek.

​Walau saat ini produksi masih terbatas karena proses produksinya masih menggunakan alat tradisional. Tapi Jemi mengaku tetap optimis. Sebab, baginya, setiap bungkus Wedang Ereng-Ereng yang terjual adalah langkah kecil menuju impian besarnya, yakni untuk menghidupkan kembali Warung Ereng-Ereng yang sempat mati suri.

Baca Juga: DIY Mengundurkan Diri untuk Menjadi Tuan Rumah PON XXIII 2032, Ini Alasannya

​"Saya masih pemula, masih merintis. Tapi saya percaya, rasa yang otentik akan menemukan jalannya sendiri ke hati masyarakat," bebernya.

Jemi menjelaskan, bagi penikmat kuliner tradisional, Wedang Ereng-Ereng kini bisa ditemui di beberapa titik Jogjakarta seperti di Kalimat Kopi, Kotagede atau melalui jejak digital Warung Ereng-Ereng.

"Volume produksinya juga belum bisa diukur berapa banyaknya. Karena saya masih by order," tandasnya. (ayu)

Editor : Iwa Ikhwanudin
#Wedang Ereng-Ereng #Keteguhan hati #Mirip Wedang Uwuh #Seduhan rempah #Bantul #minuman rempah