Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Kuliner Tradisional Jemunak, Kudapan Khas Muntilan Magelang yang Hanya Ada saat Ramadhan

Naila Nihayah • Kamis, 14 Maret 2024 | 20:24 WIB

 

TELATEN: Usai ditumbuk, Poningsih bersama Kasmirah mulai membungkus jemunak dengan daun pisang. Di dalamnya dilengkapi parutan kelapa dan gula merah cair.
TELATEN: Usai ditumbuk, Poningsih bersama Kasmirah mulai membungkus jemunak dengan daun pisang. Di dalamnya dilengkapi parutan kelapa dan gula merah cair.
MUNGKID - Disajikan sejak puluhan tahun silam, jemunak menjadi hidangan tradisional yang lekat saban Ramadhan.

Kudapan khas dari Desa Gunungpring, Muntilan, Magelang ini selalu tersedia dan diburu sebagai kuliner berbuka puasa. Sebab tidak menimbulkan efek kenyang berlebihan.

Tidak hanya diproduksi seorang saja, tapi pembuatan jemunak ini tersebar di sejumlah dusun di Desa Gunungpring.

Kebanyakan dari mereka meneruskan resep leluhur yang telah diwariskan hingga berganti generasi.

Makanan yang berbahan dasar dari ketela, beras ketan, gula merah, dan kelapa ini memiliki tekstur kenyal.

Dengan rasa manis dari gula merah cair yang disebut kinco. Jemunak tersebut lalu dibungkus dengan daun pisang sehingga terasa lebih gurih.

Seorang pembuat jemunak Dusun Karaharjan Poningsih, 57 mengutarakan, jemunak ini dibuat khusus saat Ramadhan dan merupakan kudapan khas dari Gunungpring.

"Biasanya untuk takjil," ujarnya di sela membungkus jemunak, Kamis (14/3/2024).

Dia menyebut, jemunak ini sudah ada sejak dirinya masih kecil. Dia menjadi generasi kelima yang melanjutkan pembuatan jemunak.

Kala itu, dia masih membantu orang tuanya dan diwariskan dari generasi sebelumnya. Konon, jemunak merupakan akronim dari bahasa Jawa 'ketemu kepenak'.

Sedari dulu, warga setempat kerap menjadikan jemunak sebagai pelengkap saban berbuka puasa.

"Jadi, hanya ada saat puasa. Di hari biasa, nggak ada. Kalau ada pesanan pun, kami nggak mau (membuat)," bebernya.

Baca Juga: Pemkot Jogja Hibahkan Anggaran Hampir Rp 2 Miliar Kepada TNI-POLRI Untuk Pengamanan Pilkada 2024

Aktivitas membuat jemunak dimulai sejak pukul 07.00 dengan mengupas singkong dan dicuci bersih.

Kemudian diparut kasar. Sembari itu, dia mengukus beras ketan hingga kondisi setengah matang. Dua bahan baku ini kembali dikukus hingga matang.

Setelah itu, barulah dicampur dan ditumbuk hingga halus. Pukul 11.00, setelah adonan siap, biasanya Poningsih dibantu sang adik, Kasmirah, 53 mulai membungkus adonan itu bersama parutan kelapa dan cairan gula merah yang dikemas dalam plastik.

Setiap hari saat Ramadhan, dia bersama Kasmirah bisa menghabiskan 25 kilogram (kg) ketela dan 5 kg beras ketan.

Dua bahan baku itu bisa menghasilkan sekitar 600 bungkus jemunak. Harganya pun cukup terjangkau, yakni Rp 3 ribu per bungkus.

Untuk gelaran gerebek jemunak pada 31 Maret mendatang, dia sudah mendapat pesanan sebanyak 1.000 bungkus.

Warga Karaharjan Dwi Wuryaningsih, 44 mengaku sudah berlangganan jemunak sejak kecil.

Bahkan, dulu satu bungkus jemunak masih di harga Rp 500. Kini sudah naik menjadi Rp 3 ribu per bungkus.

Meski dia merantau ke daerah lain, jemunak masih jadi kudapan andalan saat pulang ke kampung halamannya di Muntilan.

Karena menurutnya, jemunak milik Poningsih rasanya berbeda dengan lainnya. Biasanya, dia membeli beberapa bungkus jemunak sebagai takjil saat berbuka puasa.

Terkadang, jemunak itu dijadikan hidangan saat ada teman bertandang ke rumahnya.

"Rasanya enak, legit, tapi ada gurihnya dari parutan kelapa. Setiap tahun selalu beli. Kalau sekarang baru pesan 10 bungkus. Kadang saya promosikan ke teman saya, biasanya nitip untuk dipesankan sekalian," sebutnya. 

Editor : Bahana.
#Magelang #Jemunak #Kuliner #ramadhan #muntilan