Waspada DBD!Penampungan Air Dispenser dan Wadah Minum Hewan Bisa Jadi Tempat Perkembangbiakan Nyamuk

Iwan Nurwanto • Dipublikasikan Jumat, 9 Oktober 2026 | 18:47 WIB
DOLAN: Sejumlah anak bermain di dekat genangan air yang dapat menjadi berkembangnya nyamuk aedes aegypti yang menyebabkan demam berdarah dengue (DBD).
DOLAN: Sejumlah anak bermain di dekat genangan air yang dapat menjadi berkembangnya nyamuk aedes aegypti yang menyebabkan demam berdarah dengue (DBD).

JOGJA – Meski temuan kasus penyakit rendah di tengah musim kemarau, masyarakat diminta tetap mewaspadai peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) menjelang musim hujan. Sebab, penampungan air berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti jika tidak rutin dibersihkan.

Kepala Seksi Pencegahan, Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja Endang Sri Rahayu mengatakan, kasus DBD hanya 83 kasus hingga Oktober ini sejak awal tahun.

Meski demikian, jumlah kasus berpotensi meningkat seiring perubahan cuaca. Hal ini karena dapat meningkatkan tempat perkembangbiakan dan populasi nyamuk Aedes aegypti sebagai hewan penyebar penyakit.

Baca Juga: UMKM Berkah Swasembada asal Banyumas Dapat Pendampingan Berkelanjutan dari BRI Region 11 Yogyakarta

“Kami tentu sangat berharap kasus DBD yang relatif rendah bisa bertahan sampai nanti musim penghujan, jangan sampai ada kasus melebihi 100,” ujar Endang kepada wartawan, Jumat (9/10/2026).

Menurutnya, upaya pencegahan bisa dilakukan masyarakat dengan program pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Misalnya dengan memastikan tidak ada genangan air yang bisa menjadi tempat nyamuk berkembang biak.

Potensi genangan air tidak hanya muncul di luar rumah. Namun sejumlah benda di dalam rumah berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk. Contohnya penampungan air dispenser, kulkas, hingga tempat makanan atau minuman hewan.

Baca Juga: Terima Surat dari LPSK, Polda DIJ Masih Dalami Kasus Dugaan Perzinaan Pengurus Ponpes Ash-Sholihah

“Usahakan tidak ada genangan air yang memungkinkan nyamuk berkembang biak. Termasuk di dalam rumah,” pesannya.

Masyarakat juga diminta rutin mengecek talang-talang rumah, karena pada musim kemarau jalan bagi air hujan itu kerap terhalang dedaunan kering. Sehingga dapat menyumbat aliran air hujan dan berpotensi menjadi genangan.

Dari sisi kebijakan pemerintah, pihaknya sudah memanfaatkan nyamuk ber-Wolbachia untuk mengurangi penularan virus DBD. Sampai saat ini hampir 87 persen nyamuk yang terpantau telah sudah memiliki bakteri Wolbachia.

“Kami juga meminta masyarakat untuk mengenali gejala DBD dan segera melakukan pemeriksaan jika mengalami gejala,” imbuhnya.

Baca Juga: Rekam Oknum Polisi Pesta Miras, Wartawan Mengaku Dibanting dan Ponsel Dirampas

Sementara itu, Kepala Puskesmas Mantrijeron Eny Purdiyanti menyatakan, sudah rutin melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk terus menggalakkan gerakan PSN. Khususnya dengan mengurangi keberadaan genangan air di lingkungan sekitar rumah. 

Dia mencatat sudah ada 22 kasus DBD di wilayah kerjanya. Sehingga upaya pencegahan dan pemantauan lingkungan perlu dilakukan agar tidak terjadi peningkatan kasus secara signifikan.

“Pemeriksaan lingkungan dilakukan dengan melihat berbagai titik yang berpotensi menjadi tempat genangan air, baik di dalam maupun di luar rumah,” jelasnya. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
waspada musim hujan Dinkes Kota Jogja DBD penampungan air