RADAR JOGJA- Yogyakarta kembali mencatat kasus penyakit malaria. Data dari Dinas Kesehatan menunjukkan, sejak Januari hingga Agustus 2025 sudah ada 39 kasus malaria ditemukan di wilayah ini.
Meski demikian, masyarakat diminta tetap tenang karena seluruh kasus tersebut merupakan kasus impor, artinya penderita tertular dari daerah lain yang endemis malaria, bukan penularan lokal di Yogyakarta.
Kepala Dinas Kesehatan DIY Pembajun Setyaningastutie menjelaskan, malaria biasanya terbawa oleh warga atau pendatang yang sebelumnya bepergian ke daerah dengan angka penularan tinggi.
Begitu kembali ke Yogyakarta, gejala baru mulai muncul sehingga terdeteksi di fasilitas kesehatan.
Kondisi ini membuat wilayah Yogyakarta masih bisa dikategorikan aman dari penularan setempat.
Meski begitu, masyarakat tetap diminta waspada karena malaria termasuk penyakit menular yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles.
Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, terutama mereka yang memiliki daya tahan tubuh lemah atau sering bepergian ke daerah rawan malaria.
Beberapa gejala malaria yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi yang datang dan pergi, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, mual, hingga berkeringat berlebihan.
Pada kasus yang parah, malaria bisa menyebabkan anemia berat, gangguan organ, bahkan berakibat fatal jika tidak segera ditangani.
Dokter menyarankan agar masyarakat tidak menyepelekan gejala mirip flu yang disertai demam setelah bepergian dari luar daerah, khususnya kawasan endemis.
Segera lakukan pemeriksaan ke puskesmas atau rumah sakit agar mendapat diagnosa dan penanganan cepat.
Untuk pencegahan malaria, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan. Gunakan kelambu atau lotion anti nyamuk saat tidur, terutama jika berada di daerah rawan.
Pastikan lingkungan rumah tetap bersih, tidak ada genangan air yang bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk.
Selain itu, bagi warga yang berencana bepergian ke wilayah endemis malaria, disarankan melakukan konsultasi medis terlebih dahulu.
Beberapa obat pencegahan (profilaksis) bisa diberikan dokter agar risiko tertular bisa ditekan.
Pemerintah daerah juga rutin melakukan pengawasan kesehatan masyarakat, terutama bagi pekerja atau mahasiswa yang baru kembali dari daerah dengan angka malaria tinggi.
Langkah ini diambil untuk memastikan penyakit tidak menular lebih luas.
Dengan menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan kewaspadaan diri, dan mengenali gejala sejak awal, masyarakat bisa membantu mencegah penyebaran malaria.
“Pencegahan tetap lebih baik daripada pengobatan,” tegas pihaknya.
Hingga kini, meski ada 39 kasus yang tercatat, Yogyakarta masih dianggap aman karena tidak ada bukti penularan lokal. Namun, masyarakat tetap diminta untuk waspada dan menjaga kesehatan, terutama saat bepergian ke luar daerah.
Penulis: Adella Haviza
Editor : Bahana.