JOGJA - Aktivitas Siklon Choi-Wan di Samudera Pasifik turut memengaruhi kondisi cuaca dan perairan di DIY. BMKG Yogyakarta mencatat gelombang laut di pesisir selatan mencapai 2,5 hingga 4,5 meter dan mengimbau wisatawan serta masyarakat pesisir tidak berenang maupun beraktivitas terlalu dekat dengan bibir pantai.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Yogyakarta Feriomex Hutagalung mengatakan, berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer dan laut aktivitas Siklon Choi-Wan terdeteksi di Samudera Pasifik sebelah Tenggara Jepang. Selain itu juga terdeteksi pusat tekanan rendah di Samudera Hindia sebelah Barat Sumatera.
“Aktivitas siklon turut memicu dominasi pola angin timuran di seluruh wilayah Jawa, termasuk DIY,” katanya dalam keterangan dia, Kamis (8/10/2026).
Baca Juga: Penyakit ISPA Naik Capai 13 Ribu Kasus, Dinkes DIY Minta Masyarakat Waspada Ini!
Fenomena angin timuran diketahui juga turut berpengaruh terhadap kondisi perairan di Jogjakarta. BMKG mencatat tinggi gelombang laut di pesisir selatan masuk kategori tinggi atau berada pada kisaran 2,5 hingga 4,5 meter.
Menyikapi kondisi gelombang tinggi, ia menghimbau wisatawan serta masyarakat pesisir untuk tidak berenang atau beraktivitas terlalu dekat dengan bibir pantai. Serta wajib mematuhi arahan petugas keselamatan di lapangan.
Perihal kondisi cuaca, Feri menyatakan akan didominasi cerah berawan dengan potensi hujan ringan yang sangat terbatas di wilayah Sleman bagian utara dan Kulon Progo bagian utara. Minimnya curah hujan disebabkan oleh fenomena El Nino yang masuk kategori kuat dan turut mengurangi potensi pembentukan awan hujan.
Baca Juga: Prediksi Kemarau hingga Desember, Masa Tanam di Bantul Terancam Mundur
Berdasarkan prediksi BMKG, fenomena El Nino dimungkinkan akan bertahan hingga awal 2027. Sehingga musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologisnya.
“Kelembaban udara cukup kering, sehingga potensi pertumbuhan awan hujan berkurang,” bebernya.
Terpisah, Analis Kebijakan Ahli Muda BPBD Kota Jogja Iswari Mahendrarko menegaskan, mitigasi sejak dini menjadi prioritas utama mengantisipasi dampak musim kemarau. Sebab kemarau tidak hanya mengancam ketersediaan air bersih, namun juga meningkatkan bahaya kebakaran dan gangguan kesehatan.
Baca Juga: Bor Sumur 100 Meter, Warga Tirtomoyo Tetap Krisis Air: Rela Rogoh Kocek Segini!
Meski Kota Jogja tidak pernah menghadapi situasi tanggap darurat kekeringan, masyarakat diminta tetap waspada dan bijak menggunakan sumber daya air. Serta mengantisipasi potensi penyakit musim kemarau seperti ISPA dan dehidrasi.
“Kami meminta masyarakat dan seluruh instansi untuk meningkatkan kewaspadaan,” tegasnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita