BMKG Tetapkan Status Awas Kekeringan di Empat Wilayah DIY, Kecuali Sleman Masuk Kategori Siaga

Adib Lazwar Irkhami • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 19:00 WIB
Bocah bermain di bekas lahan pertanian yang retak akibat kemarau di kawasan Giwangan, Kota Jogja, Senin (27/7/2026). Memasuki puncak musim kemarau, sejumlah wilayah di DIJ berstatus siaga hingga awas terhadap ancaman kekeringan dan krisis air bersih. Foto: Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
Bocah bermain di bekas lahan pertanian yang retak akibat kemarau di kawasan Giwangan, Kota Jogja, Senin (27/7/2026). Memasuki puncak musim kemarau, sejumlah wilayah di DIJ berstatus siaga hingga awas terhadap ancaman kekeringan dan krisis air bersih. Foto: Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja

 JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta menetapkan status awas bencana kekeringan pada empat wilayah DIJ di akhir Agustus ini. Meliputi Kota Jogja, Kulon Progo, Bantul, dan Gunungkidul. Hanya Sleman yang berstatus siaga.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Mamenun mengatakan, penetapan status awas kekeringan pada empat wilayah itu didasari minimnya curah hujan. Dampak dari aktivitas El Nino yang masuk kategori sangat kuat.

Ia menyebut, fenomena El Nino diperkirakan akan terus berlanjut hingga Desember 2026. Bahkan bisa lebih parah karena ada pengaruh dominan dari angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering ke wilayah selatan ekuator.

"Sehubungan dengan potensi kekeringan dalam status siaga-awas, masyarakat dan pemangku kepentingan diharapkan mengantisipasi melalui pengelolaan sumber daya air secara efisien dan penyesuaian kegiatan sesuai kondisi wilayah,” ujar Mamenun dalam keterangannya, Minggu (23/8/2026).

Baca Juga: Sengaja Dibakar oleh Anak-Anak. Total Lahan Terdampak  Kebakaran Empat Hektare

Berdasarkan hasil pengamatan kondisi atmosfer dan laut, BMKG Jogjakarta memprediksi intensitas hujan untuk tiga bulan ke depan akan sangat minim.

Bulan September dan Oktober curah hujan hanya berkisar 0-20 mm/bulan. Sementara memasuki November naik di kisaran 0-100 mm/bulan.

Mamenun mengingatkan, curah hujan kategori rendah dapat memicu berbagai bencana. Seperti kebakaran hutan dan lahan serta berkurangnya ketersediaan air bersih.

Bagi wilayah rawan kekeringan meteorologis juga dapat memicu gagal panen di sektor pertanian. "Perlu mempersiapkan pola tanam yang sesuai dan mengelola sumber daya air yang lebih efisien,” pesannya.

Baca Juga: Dampak Musim Kemarau, Debit Air PDAM Sleman Sudah Turun hingga 15 Persen

Sementara di Kota Jogja, Analis Kebijakan Ahli Muda Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Iswari Mahendrarko menegaskan, pemkot sudah menerbitkan kesiapsiagaan terhadap bencana di musim kemarau.

Yakni melalui Surat Edaran Nomor 100.3.4/2131/2026 tentang Kesiapsiagaan Menghadapi Potensi Bencana Hidrometeorologi Kekeringan di Wilayah Kota Jogja. 

Dalam surat itu, kata Iswari, seluruh instansi di pemkot dan masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana yang diakibatkan musim kemarau.

Kemudian juga diminta untuk menyiapkan langkah antisipasi dengan menggunakan air secara bijak. Serta tidak membakar sampah sembarangan untuk mencegah kebakaran lahan dan pemukiman.

"Dalam sejarahnya Kota Jogja memang tidak pernah menghadapi situasi tanggap darurat kekeringan. Namun kami berharap masyarakat tetap waspada dan melakukan langkah pencegahan," bebernya. (inu/laz)

 

 

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
Kekeringan el nino Kebakaran Lahan Kering musim kemarau BMKG