
JOGJA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengusulkan pembangunan empat sumur bor kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengantisipasi dampak kekeringan.
Empat sumur bor tersebut direncanakan dibangun di Kabupaten Gunungkidul dan Bantul. Dari jumlah itu, tiga sumur diusulkan untuk Gunungkidul dan satu lainnya untuk Bantul.
Kepala BPBD DIY Agustinus Ruruh Haryata mengatakan, Gunungkidul mendapat porsi lebih banyak karena dampak kekeringan di wilayah tersebut dinilai lebih serius. Sejumlah kapanewon yang terdampak cukup signifikan antara lain Rongkop, Gedangsari, Panggang, dan Tepus.
"Sebelum menetapkan lokasi sumur bor, kita sudah bekerja sama dengan badan geologi, geolistrik untuk menentukan titiknya," kata Ruruh saat ditemui di Kompleks Kepatihan, Kamis (20/8/2026).
Tak hanya pembangunan sumur, BPBD DIY juga mengusulkan sarana pendukung untuk menyalurkan air dari tandon menuju masyarakat. Langkah tersebut diharapkan mampu memberikan solusi yang tidak hanya bersifat sementara.
Namun, usulan pembangunan sumur bor tersebut masih menunggu persetujuan pemerintah pusat. BPBD DIY juga belum dapat memastikan kapan pembangunan akan dimulai.
"Kalau di Kulon Progo mereka sudah menyiapkan anggaran dibantu Baznas, jadi tidak diajukan sumur bor," tuturnya.
Kekeringan Diprediksi Mencapai Puncak Agustus-September
Ruruh mengatakan, BPBD DIY telah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi kondisi kekeringan yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September.
Berdasarkan pemetaan dampak yang dilakukan, tiga kabupaten diperkirakan mengalami kondisi lebih serius, yakni Gunungkidul, Kulon Progo, dan Bantul. Sementara dampak kekeringan di Sleman dan Kota Jogja relatif lebih rendah.
"Ini yang memang dampaknya lebih serius daripada Sleman dan Kota," ujarnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




