Pengaruh Angin Timuran, BMKG Jogjakarta Prediksi Gelombang Tinggi Bisa Terjadi hingga Awal September

Adib Lazwar Irkhami • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:01 WIB
logo BMKG
logo BMKG

 

JOGJA  - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) JogJakarta memprediksi gelombang tinggi bisa terjadi hingga awal September mendatang. Kondisi itu disebabkan adanya pola angin timuran.

Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Jogjakarta Rahma Fauzia mengungkapkan, kecepatan angin timuran pada atmosfer di atas Pulau Jawa memang cukup kencang dengan kisaran 15-35 knot. Serta berpengaruh langsung terhadap kecepatan angin di perairan selatan DIJ.

Baca Juga: Kepsek dan Siswa Dilaporkan ke Polisi, Dugaan Perundungan pada Siswa SMK saat Jam Belajar di Kebumen

Rahma menyebut, tinggi gelombang diprediksi mencapai kisaran empat meter. Namun kondisi di lapangan dapat bersifat fluktuatif dan bisa melebihi perkiraan. Berdasarkan analisis BMKG, fenomena angin timuran diperkirakan masih akan terus bertahan hingga awal September.

“Untuk keadaan riilnya sesekali bisa lebih dari empat meter, dan penentuan ketinggian sering kali bergantung pada pengamatan langsung," ujar Rahma saat dikonfirmasi lewat sambungan telepon, Selasa (11/8).

Oleh karena itu, ia mengimbau agar masyarakat tetap waspada terhadap perubahan cuaca dan perubahan tinggi gelombang di sekitar area pantai. Sebab kondisi gelombang cukup berbahaya bagi aktivitas nelayan dan wisata air.

Baca Juga: Lebih dari Sekadar Atmosfer, Kehadiran Suporter Turut Jadi Kunci Finansial PSIM di Super League

“Menghadapi potensi cuaca ekstrem, kami meminta masyarakat, nelayan, dan pelaku wisata pesisir untuk selalu memperbarui informasi kondisi cuaca dari jalur resmi serta mematuhi arahan petugas di lapangan,” pesan Rahma. 

Selain ancaman gelombang tinggi, BMKG Jogjakarta juga mengeluarkan kewaspadaan terhadap bencana kekeringan. Pasalnya BMKG mendeteksi ada wilayah yang mengalami hari tanpa hujan cukup lama. Yakni di kapanewon Pajangan, Bantul dengan hari tanpa hujan 90 hari.

Kemudian disusul Kapanewon Rongkop, Gunungkidul sepanjang 74 hari dan Temon, Kulon Progo 68 hari. Mamenun menegaskan pihaknya sudah mengeluarkan peringatan dini kekeringan kategori awas sejak dasarian kedua Agustus. (inu/laz)

Editor : Herpri Kartun
Sumber : Radar Jogja
Gelombang Pasang pulau jawa BMKG Jogja Nelayan